HALLOBUNDA.CO – Setiap 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Pada 2026, peringatan ke-42 ini mengusung tema resmi “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Pesannya tidak berhenti pada ucapan atau unggahan di media sosial. Hari Anak Nasional dapat menjadi jeda bagi keluarga untuk benar-benar melihat kebutuhan anak: apakah mereka merasa aman, didengar, dihargai, dan memiliki ruang untuk tumbuh sesuai potensinya?
Di tengah maraknya twibbon, hadiah, lomba, dan konten keluarga, tren perayaan yang lebih relevan justru bergerak ke arah partisipasi anak. Anak bukan hanya penerima acara, melainkan ikut memilih kegiatan, menyampaikan pendapat, dan menentukan hal kecil yang ingin diperbaiki di rumah. Pendekatan ini sejalan dengan semangat perlindungan serta partisipasi bermakna anak yang terus didorong dalam peringatan HAN 2026.
Mengapa Perayaan Hari Anak Perlu Berpusat pada Anak?
Perayaan yang terlihat meriah belum tentu meninggalkan pengalaman berarti bagi anak. Ketika agenda sepenuhnya dibuat orang dewasa, anak dapat kembali menjadi objek foto, peserta lomba, atau penerima hadiah. Sebaliknya, kegiatan sederhana yang memberi kesempatan anak memilih, berbicara, dan merasa aman dapat memperkuat koneksi keluarga.
Bunda tidak harus membuat acara besar. Satu percakapan yang sungguh-sungguh, satu aturan keluarga yang diperbaiki, atau satu jam bermain tanpa distraksi dapat menjadi bentuk kasih sayang yang lebih nyata. Berikut tren perayaan keluarga yang dapat diterapkan pada Hari Anak Nasional 2026—dan diteruskan setelah 23 Juli berlalu.
- Family Listening Day: anak mendapat giliran bicara
Sediakan waktu 15–30 menit ketika setiap anak boleh menyampaikan hal yang membuatnya senang, khawatir, atau ingin diubah di rumah. Orang tua mendengarkan tanpa memotong, membantah, atau buru-buru memberi solusi. Untuk anak kecil, gunakan kartu gambar emosi atau pertanyaan sederhana seperti, “Apa yang paling kamu sukai minggu ini?” dan “Kapan kamu ingin Bunda lebih mendengarkan?”
Akhiri percakapan dengan satu tindak lanjut yang realistis. Misalnya, keluarga sepakat memberi waktu sepuluh menit setelah pulang sekolah sebelum bertanya tentang tugas. Anak belajar bahwa suaranya tidak hanya didengar, tetapi juga dipertimbangkan.
- Membuat Piagam Aman Keluarga
Ajak anak menyusun tiga sampai lima kesepakatan mengenai rasa aman. Isinya dapat berupa tidak mengejek tubuh atau kemampuan, meminta izin sebelum mengunggah foto, memiliki kata sandi untuk situasi darurat, dan memberi tahu orang dewasa tepercaya ketika merasa tidak nyaman. Gunakan kalimat positif, singkat, dan sesuai usia.
- Satu Hari Anak Memilih Aktivitas Keluarga
Berikan dua atau tiga pilihan yang aman dan sesuai anggaran: piknik di taman, memasak menu sederhana, membaca bersama, bersepeda, atau membuat karya seni. Anak boleh memilih aktivitas dan mengambil satu peran, misalnya menentukan bahan, menyiapkan daftar, atau menjadi pemandu permainan. Kesempatan memilih membantu anak merasakan kompetensi dan keterlibatan.
- Digital Kindness Challenge
Jika anak sudah menggunakan perangkat digital, ubah perayaan menjadi latihan kewargaan digital. Ajak anak mengenali komentar yang baik, meminta izin sebelum membagikan foto teman, memeriksa informasi, dan melaporkan konten yang membuatnya takut. Fokusnya bukan menakut-nakuti, tetapi membangun kebiasaan aman dan bertanggung jawab.