Reading: Anak Gen Alpha dan Bahasa Ekspresi di Media Digital: Bunda Perlu Paham, Bukan Sekadar Ikut Tren

Anak Gen Alpha dan Bahasa Ekspresi di Media Digital: Bunda Perlu Paham, Bukan Sekadar Ikut Tren

Syafaria Hadyandari
9 Min Read
anak Gen Alpha berdiskusi dengan ibu tentang bahasa digital di media sosial
Anak Gen Alpha berdiskusi dengan ibu tentang bahasa digital di media sosial

HALLOBUNDA.CO – Pernah melihat anak membalas pesan hanya dengan emoji, mengirim meme tanpa penjelasan, atau tertawa ketika mendengar istilah yang terdengar asing bagi orang dewasa? Bagi anak yang tumbuh bersama internet, komunikasi tidak lagi hanya berupa kalimat lengkap. Ekspresi bisa hadir lewat reaction, stiker, GIF, potongan audio, voice note, bahasa gaming, sampai lelucon yang maknanya hanya dipahami kelompok tertentu. Inilah salah satu wajah bahasa digital Gen Alpha.

Bunda tidak harus menghafal setiap istilah yang sedang viral. Bahasa internet berubah terlalu cepat untuk dikejar seperti kamus. Yang jauh lebih penting adalah memahami konteks: apa yang sedang anak rasakan, kepada siapa ia berbicara, apakah ekspresinya aman, dan apakah ada pesan yang sulit ia sampaikan secara langsung.

Baca Juga  Ngeri! Judi Online Tak Hanya Dimainkan Orang Dewasa Saja, Kini Anak-anak Juga Ikut Terjerat

Mengapa Bahasa Digital Anak Terasa Berbeda?

Komunikasi digital bersifat multimodal. Satu pesan dapat menggabungkan teks, gambar, video pendek, suara, emoji, meme, dan referensi budaya internet sekaligus. Emoji sendiri telah menjadi bagian penting dalam menyampaikan emosi secara daring, sementara meme dapat membawa nada, humor, dan konteks yang sulit diterjemahkan hanya melalui kata-kata.

Makna juga tidak selalu tetap. Emoji yang bagi Bunda terlihat ramah bisa dipakai secara ironis oleh anak. Sebuah istilah dapat berubah arti ketika berpindah dari komunitas gaming ke grup sekolah. Karena itu, menerjemahkan bahasa digital secara harfiah sering kali justru membuat orang tua salah menangkap maksud.

Bahasa Digital Bisa Menjadi Bahasa Emosi

Sebagian anak lebih mudah mengirim reaction atau meme ketika sulit menemukan kata yang tepat. Tawa, malu, kesal, kagum, atau rasa canggung bisa dikemas dalam simbol. Ini bukan berarti percakapan langsung tidak penting. Justru ekspresi digital dapat menjadi pintu masuk untuk percakapan yang lebih dalam.

Baca Juga  Support System, Kunci Bahagia dan Sehatnya Seorang Ibu

Misalnya, ketika anak berulang kali mengirim meme bertema “capek sekolah”, Bunda tidak perlu langsung menyimpulkan ia bermasalah. Gunakan sebagai pembuka: “Belakangan meme tentang sekolah ini sering muncul. Lagi capek atau cuma lucu karena relate?” Pertanyaan yang ringan memberi kesempatan anak menjelaskan.

Share this Article
Reading: Anak Gen Alpha dan Bahasa Ekspresi di Media Digital: Bunda Perlu Paham, Bukan Sekadar Ikut Tren