HALLOBUNDA.CO – “Tadi di sekolah ngapain?” “Main.” “Sama siapa?” “Teman.” Percakapan pendek seperti ini sering membuat orang tua merasa anak tidak tertarik bercerita. Padahal, anak yang jarang memulai percakapan belum tentu tidak memiliki cerita. Bisa jadi ia membutuhkan suasana yang lebih aman, waktu memproses pertanyaan, contoh bahasa yang sesuai, atau pengalaman bahwa ucapannya benar-benar didengarkan.
Kemampuan berbicara tidak hanya tumbuh dari banyaknya kata yang didengar. Anak belajar melalui interaksi dua arah: ia memberi sinyal, orang dewasa merespons, kemudian percakapan berlanjut. Penelitian tentang respons verbal orang tua menunjukkan bahwa interaksi dalam aktivitas keluarga sehari-hari berperan penting dalam mendukung komunikasi sosial dan perkembangan bahasa. Artinya, kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten dapat lebih bermakna daripada sesi latihan panjang yang terasa seperti ujian.
Mengapa Anak Bisa Terlihat Pasif Saat Diajak Berbicara?
Ada anak yang perlu waktu lebih lama untuk merancang jawaban. Ada pula yang kehilangan minat karena terlalu banyak pertanyaan berturut-turut, sering dikoreksi, atau hanya diajak bicara saat orang tua ingin mengetahui informasi. Temperamen, tahap perkembangan, kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif, kejelasan artikulasi, perhatian, suasana hati, serta pengalaman sosial juga memengaruhi cara anak berkomunikasi.
Namun, kebiasaan komunikasi di rumah tetap perlu dibedakan dari keterlambatan perkembangan. Jika anak jarang menggunakan gestur, tidak merespons suara atau nama secara konsisten, sulit memahami bahasa sesuai usia, kehilangan kemampuan yang pernah dimiliki, atau tidak menunjukkan kemajuan, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak dan tenaga profesional terkait.