“Gue ngerasa kayak kita lesin aja yang banyak anak kita, kayak dia maunya apa, dia nyamannya di mana. Kita lesin aja, sisanya homeschooling aja,” ungkap Adipati.
“Buat basic-nya homeschooling, buat tujuannya dia maunya apa gitu. Gak apa-apa berubah-ubah, tapi kita supply terus,” sambungnya.
Adipati Dolken nantinya berencana memberikan kebebasan kepada sang anak untuk memilih di mana minat terhadap skill yang dimilikinya.
Menurut Adipati Dolken, sang anak harus mencoba banyak hal untuk tahu di mana sebenarnya ia mempunyai keahlian.
“Mau les apa aja terserah, tapi biar dia punya satu tujuan. Nggak apa-apa berubah-ubah karena dia harus nyobain semuanya kan,” kata Adipati Dolken.
Setiap orangtua memiliki pertimbangan yang berbeda mengenai kapan tepatnya anak mulai sekolah, berdasarkan tujuan, manfaat, hingga biaya.
Seiring waktu, orangtua masa kini yang lebih didominasi oleh generasi milenial semakin menyadari pentingnya pendidikan anak sejak dini.
Bahwa secara esensial anak-anak usia dini, bahkan sejak bayi wajib memperoleh stimulasi pendidikan dan dimulai dari komunitas keluarga.
Namun, dalam beberapa kondisi, seperti Ayah dan Bunda bekerja, pendidikan anak usia bayi direkomendasikan ke lembaga PAUD atau pendidik yang lebih ahli agar stimulasi anak dapat optimal di masa emas perkembangan manusia 0-6 tahun.