Memasak Bersama Anak Bisa Melatih Bahasa, Ini Caranya!

Syafaria Hadyandari
9 Min Read
Ibu dan anak melakukan aktivitas memasak bersama untuk melatih bahasa anak
Ibu dan anak melakukan aktivitas memasak bersama untuk melatih bahasa anak
Delapan cara melatih kosakata dan komunikasi anak saat memasak
Delapan cara melatih kosakata dan komunikasi anak saat memasak

5. Kenalkan kata sifat melalui pancaindra

Dapur menyediakan pengalaman sensoris yang dapat diberi nama: dingin, hangat, lembut, keras, manis, asam, harum, besar, atau kecil. Katakan, “Jeruknya asam” atau “Adonannya lembut”. Pastikan anak tidak menyentuh benda panas atau mencicipi bahan yang belum aman dimakan.

6. Beri jeda agar anak mengambil giliran

Setelah memberi komentar atau pertanyaan, berhentilah sejenak. Anak membutuhkan waktu untuk memproses bahasa dan menyusun respons. Tatap wajahnya, tunggu, lalu tanggapi usaha komunikasinya—baik melalui kata, bunyi, gestur, maupun menunjuk. Interaksi dua arah lebih penting daripada jawaban yang sempurna.

Baca Juga  Jangan Asal Bunda! Ini 5 Cara untuk Mengatasi Cegukan pada si Kecil yang Aman

7. Ajak anak menceritakan kembali urutannya

Sesudah selesai, lihat kembali hasil masakan dan ajak anak mengingat prosesnya. Bunda dapat memulai dengan, “Tadi pertama kita…” lalu memberi petunjuk jika diperlukan. Foto dua atau tiga langkah juga dapat digunakan sebagai bantuan visual untuk menyusun cerita sederhana.

8. Libatkan anak saat membereskan

Momen membereskan tetap kaya bahasa. Gunakan konsep lokasi dan kategori: sendok masuk laci, mangkuk diletakkan di rak, sampah dibuang ke tempatnya. Anak dapat belajar kata seperti di dalam, di atas, di bawah, bersih, kotor, basah, dan kering.

Contoh Aktivitas Sesuai Usia

Untuk anak yang lebih kecil, pilih tugas sederhana seperti mencuci buah, memindahkan bahan dengan sendok besar, atau memasukkan potongan makanan yang sudah disiapkan orang dewasa. Anak prasekolah dapat membantu menghitung bahan, mengoles roti, merobek daun selada, atau mengurutkan langkah resep. Selalu sesuaikan dengan kemampuan individual dan lakukan di bawah pengawasan penuh.

Baca Juga  Hari Anak Nasional 2026: 7 Tren Perayaan Keluarga yang Lebih Bermakna

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari

Hindari menguji anak terus-menerus dengan pertanyaan “Ini apa?” atau meminta pengucapan diulang sampai benar. Terlalu banyak koreksi dapat membuat anak enggan berkomunikasi. Lebih baik berikan model yang benar dalam respons. Jika anak berkata “pisang manih”, Bunda dapat menjawab, “Iya, pisangnya manis.”

Jangan pula memberi tugas yang terlalu rumit atau berbahaya. Pisau tajam, kompor, oven, air panas, alat listrik, bahan mentah tertentu, serta makanan berisiko tersedak harus tetap berada dalam kendali orang dewasa. Tujuan kegiatan adalah membangun interaksi, bukan mengejar hasil masakan sempurna.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?

Setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda, tetapi milestone dapat membantu orang tua memantau kemajuan. NIDCD menjelaskan bahwa keterampilan bicara dan bahasa mengikuti tahapan perkembangan, sedangkan CDC menempatkan kemampuan bahasa dan komunikasi sebagai bagian dari milestone perkembangan anak. Jika anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya dimiliki, sangat sulit memahami ucapan, jarang merespons suara atau namanya, kesulitan mengikuti instruksi sederhana, atau orang tua memiliki kekhawatiran lain, diskusikan dengan dokter anak.

Baca Juga  Lebih dari Ibadah: 7 Aktivitas Cara Seru Ajarkan Spiritualitas pada Anak

Pemeriksaan pendengaran juga dapat diperlukan karena kemampuan mendengar berkaitan erat dengan perkembangan bicara dan bahasa. Dokter, audiolog, atau terapis wicara dapat membantu menilai kebutuhan anak secara menyeluruh.

Share this Article
Reading: Memasak Bersama Anak Bisa Melatih Bahasa, Ini Caranya!