HALLOBUNDA.CO – Bunda meminta si Kecil mengambil botol, menaruh mainan di kotak, atau menunjuk gambar kucing, dan ia melakukannya dengan tepat. Namun ketika diminta menyebutkan nama benda atau menjawab pertanyaan, ia lebih sering menunjuk, menarik tangan orang tua, atau hanya mengeluarkan sedikit kata. Situasi seperti ini dapat membuat orang tua bertanya: jika anak sudah mengerti, mengapa ia belum banyak berbicara?
Kemampuan memahami bahasa dan kemampuan menggunakan bahasa memang saling berkaitan, tetapi keduanya tidak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama. Anak bisa menunjukkan pemahaman yang relatif baik sebelum mampu mengekspresikan kebutuhan, pikiran, dan perasaannya melalui kata. Meski demikian, kemampuan memahami instruksi bukan satu-satunya indikator bahwa perkembangan komunikasi sudah sesuai usia. Orang tua tetap perlu mengamati gestur, kontak sosial, respons terhadap suara, jumlah dan variasi kata, kemampuan meniru, serta kemajuan dari waktu ke waktu.
Memahami Bahasa Reseptif dan Bahasa Ekspresif
Bahasa reseptif adalah kemampuan memahami pesan yang didengar atau dilihat. Contohnya, anak menoleh ketika namanya dipanggil, mengenali benda yang disebutkan, mengikuti instruksi sederhana, atau menunjuk gambar sesuai pertanyaan. Bahasa ekspresif adalah kemampuan menyampaikan pesan melalui gestur, suara, kata, dan kalimat. Contohnya, anak meminta minum, menyebut nama benda, menjawab pertanyaan, atau menceritakan pengalaman.
NIDCD menjelaskan bahwa kesulitan memahami ucapan orang lain berkaitan dengan bahasa reseptif, sedangkan kesulitan membagikan pikiran berkaitan dengan bahasa ekspresif. ASHA juga menjelaskan bahwa gangguan bahasa lisan dapat melibatkan produksi bahasa, pemahaman bahasa, atau keduanya. Karena itu, profil setiap anak perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan satu kemampuan yang tampak menonjol.