
4. Perluas ucapan anak, bukan langsung mengoreksi
Jika anak berkata “kucing”, Bunda dapat menjawab, “Iya, kucing tidur.” Jika ia berkata “mau susu”, perluas menjadi, “Adik mau minum susu.” Teknik ini memberi model bahasa satu tingkat di atas kemampuan anak tanpa membuat percakapan terasa seperti latihan formal.
5. Gunakan buku bergambar untuk melatih keduanya
Saat membaca, minta anak menunjuk gambar untuk melatih pemahaman: “Mana mobil?” Lalu beri kesempatan menjawab pertanyaan sederhana seperti, “Mobilnya sedang apa?” Sesuaikan pertanyaan dengan kemampuan anak dan hindari menjadikan membaca sebagai sesi tes.
6. Beri jeda agar anak punya waktu memproses
Setelah bertanya, tunggu beberapa detik sebelum mengulang atau menjawab sendiri. Anak membutuhkan waktu untuk memahami pertanyaan, memilih kata, lalu merencanakan respons. Jeda sederhana dapat membuka lebih banyak kesempatan komunikasi.
Kapan Perkembangan Bahasa Anak Perlu Diperhatikan?
Perkembangan bahasa memiliki rentang individual, tetapi orang tua tetap perlu memperhatikan pola komunikasi secara menyeluruh. Bila anak tampak sulit memahami bahasa yang sesuai usianya, sangat jarang mencoba berkomunikasi, kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki, atau Bunda memiliki kekhawatiran yang menetap, diskusikan dengan dokter anak atau profesional tumbuh kembang. Evaluasi dini bertujuan memahami kebutuhan anak, bukan memberi label.
Reseptif dan Ekspresif Perlu Distimulasi Bersama
Stimulasi bahasa tidak harus berupa sesi khusus. Percakapan saat makan, mandi, bermain, membaca buku, atau berjalan-jalan memberi kesempatan anak untuk memahami kata sekaligus mencoba menggunakannya. Kuncinya adalah mengikuti minat anak, menggunakan bahasa yang jelas, memberi waktu untuk merespons, dan menanggapi setiap usaha komunikasinya.
Pahami Cara Anak Berkomunikasi, Bukan Hanya Jumlah Katanya
Bahasa reseptif membantu anak memahami dunia yang disampaikan melalui bahasa, sedangkan bahasa ekspresif membantunya menyampaikan apa yang ada dalam pikiran. Keduanya saling berkaitan dan dapat berkembang dengan pola yang berbeda. Dengan mengamati cara anak memahami, merespons, menunjuk, bersuara, dan berbicara, Bunda mendapatkan gambaran perkembangan bahasa yang lebih utuh. Stimulasi yang hangat dan konsisten dalam aktivitas sehari-hari menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan tanpa memberi tekanan pada anak.
Bunda ingin memperkaya stimulasi komunikasi melalui aktivitas sederhana? Lanjutkan ke artikel “Aktivitas Indoor 15 Menit untuk Motorik dan Bahasa Anak” dan pilih satu permainan yang paling sesuai dengan minat si Kecil hari ini.
FAQ (People Also Ask)
Apa perbedaan bahasa reseptif dan ekspresif?
Bahasa reseptif adalah kemampuan memahami pesan, sedangkan bahasa ekspresif adalah kemampuan menyampaikan kebutuhan, pikiran, atau perasaan melalui gestur, suara, kata, dan kalimat.
Apakah anak biasanya memahami bahasa sebelum bisa bicara?
Sering kali kemampuan memahami bahasa tampak lebih dahulu daripada kemampuan mengucapkan kata. Namun perkembangan setiap anak berbeda sehingga perlu dilihat bersama kemampuan komunikasi lainnya.
Bagaimana cara melatih bahasa reseptif anak?
Gunakan instruksi sederhana, sebutkan nama benda dan tindakan, membaca buku sambil menunjuk gambar, serta ajak anak mengikuti percakapan dalam rutinitas sehari-hari.
Bagaimana cara menstimulasi bahasa ekspresif anak?
Berikan pilihan, modelkan kata atau kalimat sederhana, perluas ucapan anak, ajukan pertanyaan sesuai kemampuan, dan beri waktu agar anak dapat merespons tanpa tekanan.
Kapan orang tua perlu berkonsultasi tentang perkembangan bahasa?
Konsultasikan bila anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya dimiliki, tampak sulit memahami bahasa sesuai usianya, sangat jarang berkomunikasi, atau orang tua memiliki kekhawatiran yang menetap.