
Pola 10 Menit Ngobrol yang Mudah Dicoba
Menit 1–2: Masuk ke dunia anak
Mulailah dari sesuatu yang sedang menarik perhatian anak. Bisa mainan, gambar, makanan, kejadian di perjalanan, atau aktivitas yang baru selesai. Daripada langsung bertanya, berikan komentar sederhana: “Wah, mobil merahnya cepat sekali.” Komentar membuat anak punya bahan untuk merespons tanpa tekanan.
Menit 3–4: Ikuti topik yang dipilih anak
Jika anak berkata, “Mobil jatuh,” tahan keinginan untuk mengganti topik. Kembangkan ucapan itu: “Iya, mobil merahnya jatuh dari jembatan.” Teknik memperluas kalimat seperti ini memberi model bahasa yang lebih lengkap sambil tetap menghargai pesan anak.
Menit 5–6: Gunakan pertanyaan yang membuka cerita
Selipkan satu atau dua pertanyaan terbuka yang sesuai kemampuan anak, misalnya “Tadi bagian mana yang paling seru?” atau “Menurut kamu, setelah ini mobilnya mau ke mana?” Untuk anak yang masih sedikit bicara, pertanyaan pilihan seperti “Mau apel atau pisang?” bisa lebih mudah daripada pertanyaan yang terlalu luas.
Menit 7–8: Beri waktu tunggu
Setelah bertanya atau berkomentar, beri jeda beberapa detik. Orang dewasa sering tanpa sadar menjawab pertanyaannya sendiri karena anak terlihat diam. Padahal, anak mungkin sedang memproses kata dan menyusun respons. Kontak mata yang nyaman, ekspresi tertarik, dan jeda yang cukup membantu menjaga giliran komunikasi.
Menit 9–10: Tutup dengan merangkum cerita anak
Akhiri dengan merangkum hal yang baru dibicarakan: “Jadi tadi kamu lihat kucing di depan rumah, lalu kucingnya lari waktu ada motor.” Ringkasan sederhana membantu anak mendengar kembali urutan peristiwa dan kosakata yang digunakan. Bunda juga dapat menambahkan satu kata baru yang masih berhubungan dengan topik.
7 Kebiasaan Kecil agar Obrolan Lebih Kaya Bahasa
Pertama, simpan ponsel selama beberapa menit agar perhatian tidak terpecah.
Kedua, posisikan tubuh sejajar dengan anak bila memungkinkan.
Ketiga, gunakan kalimat yang sedikit lebih panjang daripada ucapan anak.
Keempat, ulangi kata baru dalam konteks berbeda.
Kelima, bicarakan apa yang anak lihat dan lakukan.
Keenam, beri kesempatan anak memulai percakapan.
Ketujuh, terima gestur, suara, satu kata, atau kalimat sebagai bagian dari komunikasi lalu bantu memperluasnya.
Contoh Percakapan yang Tidak Terasa seperti Tes
Anak: “Kucing tidur.”
Bunda: “Iya, kucing putihnya tidur di kursi. Sepertinya capek, ya.”
Anak: “Habis lari.”
Bunda: “Oh, tadi kucingnya habis lari? Lari ke mana?”
Percakapan sederhana ini mengandung pengulangan, perluasan kalimat, kosakata baru, dan pertanyaan terbuka tanpa meminta anak menghafal jawaban.