“Disini gak nyangka banget karna merasa udah lah gak akan hamil, karena katanya itu kb paling ampuh,” tulis Kharisma.
“Dan tingkat kegagalan nya 1 sampe 2 persen bahkan jarang sekali terjadi dan cerobohnya saya HB tanpa pengaman,” sambungnya.
Pada akhirnya setelah menjelang tiga bulan, Kharisma dan sang suami akan memiliki anak lagi.
“Dan Masya Allah selang tiga bulan dua puluh hari di kasih kepercayaan kembali,” curhat Kharisma.
Dikutip dari situs Healthline, sterilisasi wanita merupakan prosedur permanen untuk mencegah kehamilan.
Ketika perempuan memilih untuk tidak memiliki anak, sterilisasi dapat menjadi pilihan yang baik untuk kedepannya.
Prosedur ini sedikit lebih rumit dan mahal dibandingkan dengan sterilisasi pria yang biasa disebut dengan vasektomi.
Sekitar 27 persen wanita usia subur Amerika menggunakan sterilisasi wanita sebagai alat kontrasepsi, jumlah ini setara dengan 10,2 juta perempuan.
Survei ini juga menemukan bahwa perempuan kulit hitam lebih cenderung menggunakan sterilisasi perempuan 37 persen dibandingkan dengan perempuan kulit putih 24 persen.
Sterilisasi pada wanita paling umum terjadi di negara-negara berkembang, wanita berusia 40-44 tahun lebih mungkin menggunakan sterilisasi wanita dibandingkan kelompok usia lainnya 51 persen.
Lebih lanjut, kejadian setelah KB steril namun tetap hamil juga akan terjadi bila Bunda menjalani sterilisasi dengan menggunakan metode diikat atau dijepit dengan klip.
Seiring dengan berjalannya waktu, ikatan dan klip yang dipasang dapat menjadi menurun kualitasnya dan kekuatannya, sehingga Bunda dapat hamil.
Selain itu, faktor usia juga dapat menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kehamilan meski sudah dilakukan prosedur sterilisasi.