Selain terhentinya kampanye vaksinasi dan kegiatan imunisasi akibat pandemi COVID-19, banyak dari anak-anak ini tinggal di daerah terpencil, rentan, dan terkena dampak konflik, sehingga semakin sulit untuk menjangkau mereka dengan vaksin.
Populasi migran dan pengungsi yang sangat besar, kesenjangan kualitas kampanye vaksinasi, dan misinformasi mengenai vaksin juga menghambat upaya pemberantasan.
Menurunnya cakupan imunisasi anak secara global telah mengakibatkan meningkatnya wabah penyakit itu, yang muncul di beberapa negara yang sudah bebas polio selama beberapa dekade.
Penyebaran polio secara global merupakan pengingat bahwa sampai semua bentuk polio hilang, anak-anak di setiap negara masih tetap berisiko.
Dunia berada pada tahap akhir pemberantasan polio. Namun tantangan yang ada membuat tahap ini menjadi tahap yang paling sulit.
Daerah yang terkena dampak penyakit itu merupakan komunitas yang paling terpinggirkan dan kurang terlayani di dunia, tanpa akses terhadap layanan penting seperti air dan layanan kesehatan.
Kampanye vaksinasi polio yang ditargetkan kadang-kadang merupakan satu-satunya layanan yang diterima masyarakat.
Kadang-kadang, hal ini menyebabkan ketidakpercayaan dan penolakan vaksinasi dari keluarga, sehingga mengancam pemberantasan polio global.
Dengan menggunakan strategi Perubahan Sosial dan Perilaku (SBC), UNICEF memimpin upaya untuk meningkatkan penerimaan dan permintaan vaksin.
Melalui kalangan orang tua dan pengasuh – sebuah langkah penting pertama untuk mencapai dan mempertahankan cakupan vaksinasi polio yang tinggi.
Proses yang sistematis, terencana, dan berbasis bukti ini berpusat pada dialog dan partisipasi masyarakat.***