Bayi mulai memahami kata-kata jauh sebelum dia bisa mengucapkannya. Seorang ilmuwan di Haskins Laboratories, sebuah Lembaga penelitian wicara dan bahasa di Amerika Serikat, Gerald W. McRoberts, Ph.D., menyebutkan bahwa mereka mulai menghubungkan kata-kata dengan verbal dengan apa yang mereka maksudkan sejak usia 6-8 bulan.
Kira-kira pada usia yang sama mereka mulai menggunakan gerakan untuk menunjukkan sesuatu yang mereka inginkan. Seperti mengulurkan tangannya ketika meminta untuk digendong atau menunjuk sebuah benda yang ingin ia ambil. Saat anak mulai menggunakan tangannya untuk mengambil sesuatu atau memasukkan tangannya ke mulut atau si bayi mulai memperhatikan tangan orang tua atau pengasuhnya, saat itulah kemungkinan bayi siap untuk diajarkan bahasa isyarat.
Bahasa isyarat yang dikembangkan Dr. Acredolo dan Dr. Goodwyn tersebut menggunakan standar bahasa isyarat yang berasal dari American Sign Language (ASL) yang biasa digunakan oleh tuna rungu dan juga beberapa modofikasi yang ramah bayi. Namun Ayah dan Bunda bisa menggunakan gerakan sederhana untuk memulai mengajari bahasa isyarat untuk si Kecil sebagai awal stimulasi bicaranya.
Ayah dan Bunda tidak perlu menyisihkan waktu khusus untuk mengajari bahasa isyarat untuk si Kecil. Cukup melakukannya saat mengajak berbicara si Kecil, katakanlah dengan suara yang jelas, lantang dan intonasi yang berbeda-beda lalu ditambah dengan gerakan isyarat.
Ayah dan Bunda perlu melakukannya berulang-ulang sampai si Kecil berhasil memahami dan menirukan bahasa isyarat tersebut. Jangan mengajarkan terlalu banyak kata dalam sekali belajar. Stimulasi bicara harus dilakukan sedikit demi sedikit namun terus diulang-ulang.

Jika si Kecil sudah bisa menerapkan beberapa kata dengan menggunakan gerakan tangannya maka Ayah Bunda dikatakan telah berhasil mengajarkannya dan dapat dilanjutkan untuk kata-kata selanjutnya. Ayah dan Bunda harus terus melakukan stimulasi bicara setiap hari dan mencari peluang untuk menyebutkan kata-kata tersebut setiap harinya.
Bayi belajar melalui pengulangan. Jadi, jika Ayah dan Bunda bertanya kepada si Kecil apakah dia lapar, buatlah isyarat “makan” beberapa kali, dan ajukan pertanyaan dengan cara yang berbeda. Seperti “Apakah kamu ingin makan?” “Mau makan?” dan seterusnya. Jika Ayah Bunda membuat isyarat untuk suatu objek, arahkan ke objek tersebut setelahnya, ucapkan namanya, lalu ulangi prosesnya setidaknya dua kali.
Perlu diingat bahwa memberikan stimulasi bicara kepada sang buah hati memang membutuhkan kesabaran. Terus lakukan pengulangan sampai apa yang Ayah dan Bunda ajarkan kepada si Kecil dapat ia tirukan. Jika si Kecil telah mampu menirukannya, maka berbahagialah karena itu artinya Ayah dan Bunda telah berhasil menstimulasi bicara si Kecil. Jangan bosan untuk terus memberikan stimulasi bicara agar si Kecil memiliki kemampuan bicara dan bahasa yang baik kedepannya.