HALLOBUNDA.CO – Mengajak anak salat sering kali tidak semudah mengucapkan, “Ayo, waktunya salat.” Ada anak yang langsung mengikuti, tetapi ada pula yang masih ingin bermain, mengulur waktu, menangis, atau marah ketika diingatkan. Situasi ini dapat membuat orang tua bingung: apakah harus bersikap tegas, memberi hukuman, atau menunggu anak mau dengan sendirinya?
Pentingnya fase usia dalam memberikan perintah kepada anak. Pesan tersebut dapat dipahami sebagai pengingat bahwa kemampuan anak menerima arahan berkembang secara bertahap. Namun, usia bukan satu-satunya ukuran. Kematangan emosi, kemampuan memahami instruksi, pengalaman belajar, dan teladan di rumah juga sangat menentukan.
Dalam pengasuhan positif, batas yang jelas tetap diperlukan. Bedanya, batas diberikan dengan cara yang tenang, konsisten, dan menghormati martabat anak. Tujuannya bukan sekadar membuat anak patuh pada saat itu, melainkan membantu anak membangun kebiasaan, memahami makna, dan belajar mengatur dirinya.
Mengapa Anak Bisa Menolak Saat Diajak Salat?
Penolakan tidak selalu berarti anak tidak menghargai ibadah. Pada usia dini, anak masih belajar berpindah dari aktivitas yang menyenangkan menuju aktivitas yang membutuhkan berhenti, fokus, dan mengikuti urutan. Ketika sedang asyik bermain, permintaan mendadak dapat terasa seperti kehilangan kendali.
Anak juga dapat menolak karena lelah, lapar, belum memahami alasan, pernah dimarahi ketika melakukan kesalahan, atau merasa setiap ajakan selalu berakhir dengan konflik. Karena itu, respons orang tua perlu melihat kebutuhan di balik perilaku, bukan hanya perilaku yang tampak.
UNICEF menjelaskan bahwa disiplin positif berfokus pada hubungan yang sehat dan ekspektasi perilaku, bukan hukuman. Pendekatan ini tidak berarti membiarkan anak melakukan apa saja, melainkan mengajarkan perilaku yang diharapkan melalui batas dan arahan yang jelas.
Usia Bukan Satu-satunya Patokan Kesiapan Anak
Patokan usia membantu orang tua menyusun ekspektasi, tetapi perkembangan setiap anak tidak selalu sama. Anak berusia tujuh tahun mungkin sudah mampu mengikuti urutan dengan baik, tetapi masih perlu pengingat, pendampingan, dan contoh. Anak yang lebih besar pun dapat mengalami kesulitan ketika rutinitas belum pernah dibangun secara konsisten.
Perhatikan beberapa indikator kesiapan: anak mampu memahami instruksi dua atau tiga langkah, dapat menunda aktivitas sebentar, mengenali waktu atau tanda rutinitas, serta mulai memahami hubungan antara tindakan dan tanggung jawab. Gunakan indikator ini untuk menyesuaikan cara mendampingi, bukan untuk membandingkan anak dengan saudara atau teman.