GTM Bukan Pertarungan: 7 Langkah Tenang Membantu Anak Kembali Nyaman Makan

Syafaria Hadyandari
13 Min Read
Ibu menghadapi GTM anak dengan tenang tanpa memaksa
Ibu menghadapi GTM anak dengan tenang tanpa memaksa

HALLOBUNDA.CO – Sendok baru mendekat, si Kecil sudah mengatupkan mulut. Ia memalingkan wajah, melepeh makanan, mendorong piring, atau menangis ketika waktu makan dimulai. Situasi yang populer disebut gerakan tutup mulut atau GTM ini mudah membuat orang tua panik. Kekhawatirannya wajar: apakah anak mendapat cukup energi, protein, zat besi, dan zat gizi lain untuk tumbuh?

Namun GTM bukan diagnosis tunggal dan bukan pula bukti bahwa anak sengaja “melawan”. IDAI menjelaskan bahwa praktik pemberian makan yang kurang tepat merupakan penyebab yang sering ditemukan pada masalah makan batita. Di sisi lain, penolakan makan juga dapat muncul karena anak sedang sakit, konstipasi, sariawan, tumbuh gigi, belum lapar, terlalu banyak susu atau camilan, tekstur belum sesuai kemampuan, atau pengalaman makan sebelumnya terasa menegangkan.

Baca Juga  MPASI Nggak Bisa Asal, Bun! Ini Alasan Pentingnya Diberikan Bertahap

Karena penyebabnya beragam, tujuan pertama bukan membuat satu piring habis. Yang lebih penting adalah mengembalikan struktur makan, memastikan makanan sesuai usia dan padat gizi, menghormati sinyal lapar-kenyang, serta memantau pertumbuhan. WHO menganjurkan responsive feeding: dampingi anak dengan sabar, dorong untuk makan tetapi jangan memaksa, berbicara dan menjaga interaksi positif selama makan.

Apa sebenarnya GTM pada anak?

GTM adalah istilah populer untuk perilaku menolak makan, misalnya menutup mulut, memalingkan kepala, menangis, menyemburkan makanan, atau hanya mau beberapa jenis makanan. Perilaku ini dapat terjadi sesekali sebagai bagian dari perkembangan kemandirian, tetapi perlu dievaluasi bila berlangsung lama, membuat variasi makanan sangat sempit, atau memengaruhi pertumbuhan.

Baca Juga  Menu MPASI Tinggi Protein: Panduan Lengkap untuk Tumbuh Kembang Bayi

Pada masa batita, laju pertumbuhan tidak secepat tahun pertama sehingga nafsu makan dapat tampak menurun. Anak juga mulai memiliki preferensi dan ingin mengontrol banyak hal. Satu kali makan yang sedikit belum tentu bermasalah bila anak tetap aktif, minum cukup, dan tumbuh sesuai kurva. Karena itu, lihat pola selama beberapa hari, bukan satu piring.

Catat selama 3–7 hari: jam makan, camilan, jumlah susu, durasi makan, makanan yang diterima atau ditolak, tekstur, gejala sakit, buang air besar, dan suasana makan. Catatan sederhana sering membantu menemukan apakah anak tidak lapar karena grazing, terlalu kenyang oleh susu, menolak tekstur tertentu, atau sedang tidak nyaman.

Baca Juga  Bantu Optimalkan Perkembangan Otak si Kecil Yuk Bunda! Dengan MPASI Berbahan Kaldu Ceker
Share this Article
Reading: GTM Bukan Pertarungan: 7 Langkah Tenang Membantu Anak Kembali Nyaman Makan