Reading: Anak Bisa Bicara tapi Tidak Mau Bicara? Kenali Penyebab dan Cara Memberi Stimulasi Bahasa Tanpa Memaksa

Anak Bisa Bicara tapi Tidak Mau Bicara? Kenali Penyebab dan Cara Memberi Stimulasi Bahasa Tanpa Memaksa

Syafaria Hadyandari
11 Min Read
orang tua mengajak anak berkomunikasi tanpa memaksa
Orang tua mengajak anak berkomunikasi tanpa memaksa

HALLOBUNDA.CO – Ada anak yang sangat cerewet di rumah, bercerita panjang dengan orang tua, bernyanyi, atau bermain peran dengan lancar. Namun ketika berada di sekolah, bertemu orang yang belum akrab, atau diminta menjawab di depan banyak orang, ia tiba-tiba diam. Situasi seperti ini mudah membuat orang dewasa menyimpulkan, “Anaknya sebenarnya bisa bicara, kok, cuma tidak mau.”

Padahal, kemampuan berbicara dan kesiapan untuk berbicara pada situasi tertentu adalah dua hal yang berbeda. Anak dapat memiliki kosakata dan kemampuan menyusun kalimat yang cukup, tetapi tetap kesulitan mengeluarkan suara ketika merasa cemas, tertekan, tidak aman, atau terlalu menjadi pusat perhatian. Karena itu, stimulasi bahasa tidak selalu berarti meminta anak berbicara lebih banyak. Kadang yang lebih dibutuhkan justru lingkungan komunikasi yang terasa aman.

Baca Juga  DIY Kartu Cerita: 12 Aktivitas Seru untuk Stimulasi Bahasa Anak

Bisa Bicara dan Mau Bicara adalah Dua Hal yang Berbeda

Perkembangan bahasa mencakup kemampuan memahami bahasa, menggunakan kata dan kalimat, bergiliran dalam percakapan, serta menggunakan komunikasi sesuai konteks sosial. CDC memasukkan kemampuan berbicara dan berkomunikasi sebagai bagian dari milestone perkembangan yang perlu dipantau sesuai usia.

Namun kemampuan tersebut tidak selalu muncul sama di semua tempat. Seorang anak dapat berbicara bebas bersama keluarga tetapi menjadi sangat pendiam ketika berada di lingkungan baru. Temperamen, rasa malu, pengalaman sebelumnya, tekanan dari orang dewasa, dinamika sosial, dan kecemasan dapat memengaruhi seberapa mudah anak menggunakan kemampuan bahasanya.

Karena itu, jangan hanya bertanya “berapa banyak kata yang anak bisa ucapkan?”, tetapi juga “di mana ia paling nyaman berbicara?”, “dengan siapa ia bisa bercakap-cakap?”, dan “apa yang terjadi ketika ia diminta menjawab?”. Pola lintas situasi memberikan informasi yang lebih berguna daripada satu kejadian.

Baca Juga  Membaca Buku Interaktif: 7 Cara Sederhana Merangsang Bicara dan Bahasa Anak

Mengapa Anak Bisa Diam di Situasi Tertentu?

Sebagian anak membutuhkan waktu untuk menghangatkan diri. Mereka mungkin mengamati terlebih dahulu sebelum ikut berbicara. Pada kondisi seperti ini, respons biasanya muncul setelah anak merasa lebih familiar.

Pada anak lain, tekanan untuk berbicara justru dapat membuat komunikasi semakin sulit. Pertanyaan bertubi-tubi, komentar seperti “ayo jawab, kan kamu bisa”, atau banyak orang yang menunggu jawaban dapat meningkatkan ketegangan. Anak mungkin memilih mengangguk, menunjuk, berbisik kepada orang tua, atau sama sekali tidak merespons.

Ada pula kondisi bernama selective mutism atau mutisme selektif. ASHA dan NHS menjelaskan bahwa selective mutism merupakan gangguan kecemasan ketika anak konsisten tidak dapat berbicara pada situasi sosial tertentu meskipun mampu berbicara pada situasi lain. Ini bukan sekadar keras kepala atau pilihan untuk diam. Ekspektasi untuk berbicara dapat memicu respons cemas atau freeze sehingga berbicara terasa sangat sulit.

Baca Juga  10 Ide Aktivitas Outdoor Keluarga untuk Stimulasi Anak

Tidak semua anak yang pendiam mengalami selective mutism. Karena itu, diagnosis tidak dapat dibuat hanya karena anak tidak menjawab sekali atau dua kali. Pola harus dinilai bersama durasi, situasi pemicu, dampaknya terhadap sekolah atau hubungan sosial, serta kondisi perkembangan lainnya.

Share this Article
Reading: Anak Bisa Bicara tapi Tidak Mau Bicara? Kenali Penyebab dan Cara Memberi Stimulasi Bahasa Tanpa Memaksa