HALLOBUNDA.CO – Kemampuan bicara anak bukan hanya soal berapa banyak kata yang ia ucapkan. Komunikasi juga tumbuh ketika anak belajar memperhatikan lawan bicara, memberi respons, menggunakan gestur, menunggu giliran, lalu menyampaikan maksudnya kembali. Karena itu, percakapan dua arah anak dapat dilatih bahkan sebelum kalimatnya panjang. Momen sederhana seperti memilih buah, bermain mobil-mobilan, atau melihat buku dapat menjadi kesempatan berkomunikasi jika orang tua memberi ruang bagi anak untuk ikut “mengisi” percakapan.
Mengapa Percakapan Dua Arah Penting untuk Bahasa Anak?
ASHA menjelaskan bahwa perkembangan komunikasi mencakup kemampuan mendengar, berbicara, memahami bahasa, menggunakan gestur, dan berinteraksi. Pada usia 10–12 bulan, banyak bayi mulai menunjuk, melambaikan tangan, menunjukkan benda, serta mencoba meniru bunyi. Memasuki 19–24 bulan, banyak anak mulai menggunakan dan memahami lebih banyak kata. Artinya, komunikasi berkembang melalui rangkaian respons sosial yang bertahap, bukan sekadar latihan mengucapkan kata.
Fokus pada Interaksi, Bukan “Tes” Kata
Saat ingin merangsang bahasa, orang tua kadang tanpa sadar terlalu sering bertanya: “Ini apa?”, “Warnanya apa?”, “Bilang apa?” Jika dilakukan terus-menerus, interaksi dapat terasa seperti tes. Cobalah menyeimbangkan pertanyaan dengan komentar. Ketika anak memegang bola, misalnya, Bunda bisa berkata, “Bolanya besar. Wah, menggelinding!” lalu berhenti sejenak. Jeda memberi kesempatan anak merespons dengan tatapan, gerakan, bunyi, atau kata.
1. Ikuti apa yang sedang menarik perhatian anak
Alih-alih mengalihkan anak ke aktivitas pilihan orang tua, masuklah ke permainan yang sedang ia nikmati. Jika anak melihat kucing, komentari kucing. Jika ia menyusun balok, bicarakan balok. Kata yang hadir sesuai fokus perhatian biasanya lebih mudah dikaitkan dengan makna.
2. Gunakan kalimat pendek dan jelas
Sesuaikan bahasa dengan kemampuan anak. Untuk anak yang baru menggunakan satu kata, model seperti “mobil jalan”, “mau susu”, atau “bola jatuh” lebih mudah diproses daripada penjelasan panjang. Seiring kemampuan berkembang, kalimat dapat diperluas secara alami.
3. Beri jeda sebelum membantu
Setelah berbicara atau menawarkan pilihan, tunggu beberapa detik. Jangan buru-buru menjawab untuk anak. Jeda membuat anak punya waktu untuk memproses bahasa dan menyusun respons. Respons itu tidak harus berupa kata; menunjuk atau menatap juga dapat menjadi bagian dari komunikasi.
4. Tanggapi semua usaha komunikasi
Ketika anak menunjuk pisang sambil berkata “na”, responslah seolah pesannya bermakna: “Iya, pisang. Mau pisang?” Orang tua tidak perlu meminta anak mengulang sampai sempurna. ASHA menyarankan orang tua mendengarkan dan merespons anak serta memberi model pengucapan yang benar tanpa terus menginterupsi untuk mengoreksi bunyi.