Anak Belum Lancar Bicara? Kenali Red Flag Speech Delay Sesuai Tahap Usianya

Syafaria Hadyandari
7 Min Read
Ibu mengamati red flag speech delay dan perkembangan komunikasi anak
Ibu mengamati red flag speech delay dan perkembangan komunikasi anak

HALLOBUNDA.CO“Anak tetangga seusianya sudah cerewet, kok si Kecil masih sedikit bicara?” Kekhawatiran seperti ini cukup sering muncul. Perkembangan komunikasi memang berbeda pada setiap anak, sehingga membandingkan jumlah kata saja belum cukup untuk menentukan ada atau tidaknya keterlambatan. Namun, ada sejumlah red flag speech delay yang layak diperhatikan—terutama bila anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki, tidak menunjukkan kemajuan, atau melewatkan beberapa keterampilan komunikasi dalam rentang usianya.

Speech Delay Tidak Hanya Soal Jumlah Kata

Speech atau bicara berkaitan dengan produksi bunyi untuk menyampaikan kata, sedangkan language atau bahasa mencakup kemampuan memahami dan mengekspresikan pesan. Karena itu, saat memantau perkembangan anak, Bunda perlu melihat gambaran yang lebih luas: apakah ia merespons suara, menggunakan gestur, memahami instruksi, menambah kosakata, menggabungkan kata, dan terlibat dalam komunikasi dua arah.

Baca Juga  Hebat! Anak 18 Tahun Sudah Menjadi Pekerja Software Engineer Google, Ternyata Begini Cara Mendidiknya

NIDCD menjelaskan bahwa anak berkembang dengan kecepatan berbeda, tetapi keterampilan bicara dan bahasa mengikuti suatu progres perkembangan. Masalah pendengaran juga dapat memengaruhi perkembangan komunikasi. Jika ada kekhawatiran, evaluasi oleh dokter dan profesional bicara-bahasa dapat disertai pemeriksaan pendengaran.

Red Flag Speech Delay yang Perlu Dicermati Sesuai Tahap Usia

1. Respons terhadap suara dan interaksi sangat terbatas

Sejak awal kehidupan, komunikasi bukan hanya kata. Bayi belajar merespons suara, wajah, dan interaksi bolak-balik. Bila Bunda merasa anak sering tidak merespons suara atau harus dipanggil sangat keras/berulang, diskusikan juga kemungkinan pemeriksaan pendengaran dengan tenaga kesehatan.

2. Menjelang akhir tahun pertama, gestur dan komunikasi awal sangat minim

Pada rentang 10–12 bulan, ASHA mencantumkan keterampilan seperti menunjuk, melambaikan tangan, serta menunjukkan atau memberikan benda sebagai bagian dari milestone komunikasi. NIDCD juga mencantumkan gestur, imitasi bunyi, dan satu atau dua kata sekitar ulang tahun pertama dalam checklist perkembangan komunikasi.

Baca Juga  Anak Sulit Mengatur Emosi? Aktivitas Fisik Bisa Membantu Tubuh Lebih Tenang

3. Usia 13–18 bulan kesulitan memahami arahan sederhana

Pada usia 13–18 bulan, contoh milestone ASHA termasuk mengikuti arahan seperti “Berikan bolanya” atau “Tunjukkan hidungmu”. CDC mencatat bahwa pada 18 bulan kebanyakan anak mencoba mengatakan tiga atau lebih kata selain “mama” atau “dada” dan mengikuti instruksi satu langkah tanpa gestur. Satu milestone yang belum tercapai tidak otomatis berarti gangguan, tetapi pola beberapa keterampilan yang tertinggal patut dibicarakan dengan dokter.

4. Usia 19–24 bulan belum berkembang menuju kombinasi kata

ASHA menyebut bahwa pada rentang 19–24 bulan anak umumnya mulai menggabungkan dua kata atau lebih, sementara CDC mencantumkan penggunaan setidaknya dua kata bersama sebagai milestone usia 2 tahun. Pada rentang ini, ASHA juga mencantumkan penggunaan dan pemahaman sedikitnya sekitar 50 kata sebagai salah satu milestone.

Baca Juga  4 Trik Melatih Fokus Anak Speech Delay dari Ahli
Share this Article
Reading: Anak Belum Lancar Bicara? Kenali Red Flag Speech Delay Sesuai Tahap Usianya