HALLOBUNDA.CO – Si Kecil menarik tangan Bunda, menunjuk botol minum, lalu mengeluarkan suara pendek. Ia tampak tahu apa yang diinginkan, tetapi belum menggunakan banyak kata. Situasi ini sering membuat orang tua bertanya: apakah menunjuk merupakan tanda yang baik, atau justru perlu dikhawatirkan? Gestur seperti menunjuk, melambaikan tangan, mengangguk, dan memperlihatkan benda merupakan bagian dari komunikasi awal. Anak memakai tubuhnya untuk menyampaikan maksud sebelum kemampuan bicaranya semakin matang. Respons orang tua pada momen kecil tersebut dapat mengubah gestur menjadi kesempatan belajar bahasa yang alami.
Menunjuk Adalah Komunikasi, Bukan Kebiasaan yang Harus Dihentikan
Saat anak menunjuk, ia sedang mengajak orang lain berbagi perhatian pada benda atau kejadian tertentu. Inilah yang disebut perhatian bersama atau joint attention. Anak mungkin menunjuk untuk meminta, menunjukkan sesuatu yang menarik, atau memastikan Bunda melihat hal yang sama. ASHA menjelaskan bahwa anak menggunakan gestur sebelum mampu mengucapkan banyak kata. Karena itu, orang tua tidak perlu melarang menunjuk atau menahan benda sampai anak berhasil mengucapkan kata dengan sempurna. Yang lebih membantu adalah mengakui maksudnya, memberi model kata yang singkat, lalu menyediakan ruang untuk merespons.
Gunakan Pola: Lihat, Beri Kata, Tunggu, Lalu Respons
Pola sederhana ini dapat digunakan sepanjang hari. Pertama, lihat apa yang sedang diperhatikan anak. Kedua, beri satu atau dua kata yang sesuai, misalnya “mau susu”, “bola merah”, atau “kucing tidur”. Ketiga, tunggu beberapa detik tanpa buru-buru mengulang pertanyaan. Terakhir, respons setiap usaha komunikasinya—tatapan, suara, gestur, suku kata, maupun kata. Tujuannya bukan mengetes anak, melainkan menunjukkan bahwa komunikasi dua arah terasa aman dan menyenangkan.
1. Saat makan: beri pilihan dengan kata sederhana
Tawarkan dua pilihan yang terlihat, misalnya pisang dan roti. Tanyakan, “Mau pisang atau roti?” Jika anak menunjuk pisang, respons, “Pisang. Mau pisang.” Bunda dapat menunggu sebentar sebelum memberikannya, tetapi tidak perlu memaksa anak menirukan. Pengulangan yang konsisten membantu anak menghubungkan benda, gestur, dan kata.
2. Saat minum: perluas permintaan satu langkah
Ketika anak menunjuk gelas, hindari hanya berkata, “Ini?” Berikan model yang bisa dipakai: “Mau minum,” “Air, ya,” atau “Tambah air.” Jika anak mengeluarkan bunyi “a”, Bunda dapat membalas, “Iya, air.” Respons seperti ini memperluas komunikasi tanpa mengoreksi secara berlebihan.
3. Saat bermain: ikuti fokus anak
Jika anak menunjuk mobil, ikutlah bermain di benda yang sama. Katakan, “Mobil jalan,” “Mobil cepat,” atau “Mobil masuk garasi.” Tidak perlu terus bertanya, “Ini apa?” Komentar sering kali lebih mudah diproses daripada rangkaian pertanyaan. Sesekali berhenti pada bagian yang dapat diprediksi: “Mobilnya…,” lalu beri kesempatan anak mengisi dengan suara, gerakan, atau kata.
4. Saat membaca buku: ubah tunjuk menjadi percakapan
Ketika anak menunjuk gambar anjing, respons, “Anjing. Gug-guk.” Lanjutkan dengan kalimat pendek, “Anjingnya lari.” Anak tidak harus menyebut nama gambar setiap kali. Ia juga dapat menunjukkan, menirukan suara, atau membalik halaman. Aktivitas membaca interaktif memberi banyak kesempatan mengulang kosakata dalam konteks yang menarik.