Anak Paham tapi Belum Banyak Bicara? Kenali Bahasa Reseptif dan Ekspresif

Syafaria Hadyandari
7 Min Read
Anak berkomunikasi dengan ibu menggunakan bahasa reseptif dan ekspresif
anak berkomunikasi dengan ibu menggunakan bahasa reseptif dan ekspresif

HALLOBUNDA.COBunda memanggil, “Ambil sepatu lalu taruh di dekat pintu,” dan si Kecil melakukannya dengan tepat. Namun ketika ditanya apa yang ia inginkan, jawabannya mungkin baru satu kata, menunjuk, atau bahkan diam. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa kemampuan memahami bahasa dan kemampuan mengungkapkan bahasa tidak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama. Dalam perkembangan bicara dan bahasa anak, keduanya dikenal sebagai bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Memahami perbedaannya membantu orang tua memberi stimulasi yang lebih sesuai tanpa terburu-buru membandingkan anak dengan teman seusianya.

Apa Itu Bahasa Reseptif pada Anak?

Menurut NIDCD, bahasa reseptif adalah kemampuan anak memahami pesan yang diterima melalui kata, kalimat, gestur, dan konteks. Contohnya terlihat ketika anak menoleh saat namanya dipanggil, menunjuk benda yang disebut, memahami pertanyaan sederhana, atau mengikuti instruksi. Kemampuan ini menjadi fondasi penting karena anak perlu memahami makna sebelum dapat menggunakan banyak kata secara mandiri. Dalam keseharian, Bunda dapat mengamatinya melalui respons anak, bukan hanya dari seberapa banyak kata yang ia ucapkan.

Baca Juga  10 Menit Main Bareng Anak: 10 Ide Sederhana yang Kaya Stimulasi

Apa Itu Bahasa Ekspresif pada Anak?

Bahasa ekspresif adalah kemampuan menyampaikan kebutuhan, pikiran, perasaan, dan ide kepada orang lain. Bentuknya dapat berupa gestur, suara, kata, gabungan kata, hingga kalimat. Jadi, ekspresif tidak hanya berarti “anak sudah lancar bicara”. Anak yang menunjuk sambil mengatakan “mau” juga sedang menggunakan komunikasi ekspresif. Seiring perkembangan, kosakata, panjang kalimat, tata bahasa, dan kemampuan bercerita biasanya menjadi semakin kompleks.

Mengapa Kemampuan Reseptif dan Ekspresif Bisa Berbeda?

Pada banyak anak, kemampuan memahami bahasa tampak lebih dahulu daripada kemampuan mengucapkannya. Anak dapat mengetahui arti lebih banyak kata dibandingkan kata yang mampu ia gunakan sendiri. Hal ini wajar sebagai bagian dari proses perkembangan, tetapi pola setiap anak tetap berbeda. Karena itu, penilaian sebaiknya tidak hanya berdasarkan jumlah kata, melainkan juga bagaimana anak memahami instruksi, berinteraksi, menggunakan gestur, dan mencoba menyampaikan maksud.

Baca Juga  10 Cara Mengajak Anak Banyak Bicara Tanpa Memaksa

1. Beri instruksi sederhana dalam aktivitas nyata

Gunakan kalimat singkat yang berhubungan langsung dengan kegiatan, misalnya “Ambil sendok,” “Tutup pintu,” atau “Taruh bola di kotak.” Setelah anak terbiasa, tingkatkan perlahan menjadi dua langkah. Aktivitas rutin membuat kata lebih mudah dipahami karena anak mendapat bantuan dari konteks.

2. Sebutkan nama benda dan tindakan yang sedang terjadi

Saat bermain atau melakukan rutinitas, narasikan secara singkat: “Adik buka kotak,” “Airnya tumpah,” atau “Mobil merah jalan.” Anak mendapatkan contoh hubungan antara kata, benda, dan tindakan tanpa merasa sedang diuji.

3. Beri pilihan agar anak terdorong merespons

Daripada langsung memberikan sesuatu, tawarkan dua pilihan: “Mau pisang atau apel?” Tunggu respons anak. Ia boleh menjawab dengan menunjuk, suara, atau kata. Bunda kemudian dapat memodelkan bentuk yang sedikit lebih lengkap, misalnya, “Mau apel, ya.”

Baca Juga  Kejam! Bocah 7 Tahun Diperkosa Oleh Ayah dan Kakeknya, Hingga Miliki Penyakit Kelamin
Share this Article
Reading: Anak Paham tapi Belum Banyak Bicara? Kenali Bahasa Reseptif dan Ekspresif