HALLOBUNDA.CO – Si Kecil sudah aktif bercerita, tetapi beberapa katanya masih terdengar kurang jelas? Bunda mungkin tergoda meminta anak mengulang kata sampai pengucapannya benar. Padahal, untuk banyak anak, kesempatan mendengar model ucapan yang jelas dalam percakapan dan permainan justru dapat menjadi cara yang lebih nyaman untuk belajar bunyi.
Artikulasi berkaitan dengan bagaimana bunyi ujaran diproduksi. ASHA menjelaskan bahwa speech sound disorder dapat melibatkan kesulitan pada persepsi, produksi motorik, maupun representasi fonologis bunyi. Artikulasi dan fonologi juga tidak selalu mudah dibedakan hanya dari apa yang terdengar di rumah. Karena itu, stimulasi sederhana sebaiknya berfungsi sebagai dukungan komunikasi—bukan sebagai terapi mandiri atau cara mendiagnosis anak.
Artikulasi Bukan Sekadar “Bisa Mengucapkan Huruf”
Dalam percakapan, anak perlu mengatur berbagai bunyi menjadi suku kata dan kata agar pesan dapat dipahami. Kesalahan dapat berupa bunyi yang diganti, dihilangkan, ditambahkan, atau terdengar terdistorsi. Sebagian kesalahan pengucapan masih dapat muncul selama perkembangan karena bunyi tidak dikuasai sekaligus. ASHA juga mengingatkan bahwa beberapa bunyi berkembang lebih lambat dan perbedaan bahasa atau dialek tidak otomatis menunjukkan gangguan.
Fokus utama orang tua sebaiknya bukan mengejar “kesempurnaan” setiap bunyi, tetapi membantu anak mendengar model yang baik, tetap percaya diri berbicara, dan makin mudah dipahami seiring perkembangan.
5 Cara Natural Menstimulasi Artikulasi Saat Ngobrol dan Bermain
1. Ulangi kata dengan model yang benar, tanpa menyalahkan
Jika anak berkata “teta” untuk “kereta”, Bunda tidak perlu mengatakan, “Salah, coba ulangi.” Tanggapi pesannya sambil memberikan model: “Iya, keretanya panjang.” Anak tetap merasa didengar sekaligus memperoleh contoh pengucapan yang benar. ASHA menyarankan orang tua menjadi model bunyi yang baik dan tidak terus-menerus mengoreksi kesalahan bunyi anak.
2. Gunakan kata yang dekat dengan aktivitas anak
Pilih kata dari benda atau kegiatan yang sedang menarik perhatian anak: bola, mobil, mandi, makan, buka, tutup, atau nama anggota keluarga. Kata yang bermakna bagi anak membuat latihan terasa sebagai bagian dari komunikasi, bukan tugas.
3. Bermain dengan bunyi, bukan menguji anak
Saat bermain kendaraan, buat bunyi “brum”, “tin-tin”, atau “tut-tut”. Saat melihat hewan, gunakan bunyi yang mudah ditiru. Sound play membantu anak memperhatikan pola bunyi. Tidak masalah bila hasil tiruannya belum persis; respons yang hangat menjaga motivasi berkomunikasi.

Subscribe to my channel