MPASI Sehat Belum Tentu Nutrisinya Tetap Utuh: Cara Mengolah agar Gizi Anak Lebih Terjaga

Syafaria Hadyandari
11 Min Read
Cara mengolah MPASI agar nutrisi tetap terjaga
Cara mengolah MPASI agar nutrisi tetap terjaga
Mengukus dan merebus sayur untuk MPASI
Mengukus dan merebus sayur untuk MPASI

1. Jangan merebus terlalu lama dengan terlalu banyak air

Perebusan membuat makanan lunak dan mudah diolah menjadi tekstur MPASI. Masalahnya, vitamin yang larut air dapat berpindah ke air rebusan. Semakin lama bahan terpapar panas dan semakin banyak air yang kemudian dibuang, semakin besar peluang sebagian zat gizi ikut terbuang.

Bila resep memungkinkan, gunakan air secukupnya dan masak hanya sampai bahan matang serta teksturnya aman untuk bayi. Untuk menu berkuah, cairan masak dapat menjadi bagian dari hidangan sehingga zat gizi yang larut ke dalamnya tidak seluruhnya dibuang. Tetap utamakan keamanan: daging, telur, ikan, dan bahan hewani harus matang dengan baik.

Baca Juga  7 Menu Sarapan Fokus untuk Menjaga Energi Anak sampai Jam Belajar

2. Mengukus bisa menjadi pilihan untuk sebagian sayuran

Mengukus membatasi kontak langsung bahan dengan air. Sejumlah studi pada sayuran menunjukkan bahwa metode ini dapat mempertahankan vitamin C dan beberapa komponen bioaktif lebih baik daripada perebusan, walaupun hasilnya berbeda-beda menurut jenis bahan. Jadi, mengukus bukan aturan wajib untuk semua menu, tetapi dapat menjadi salah satu teknik yang berguna untuk variasi MPASI.

3. Potong seperlunya, bukan sekecil mungkin sejak awal

Memotong bahan membantu mempercepat proses memasak, tetapi permukaan bahan yang lebih luas juga meningkatkan kontak dengan air dan oksigen. Secara praktis, Bunda dapat mencuci bahan dengan baik, memotongnya sesuai kebutuhan, lalu memasak tanpa proses perendaman yang tidak diperlukan. Setelah matang, tekstur bisa disesuaikan dengan kemampuan makan anak: dilumatkan, dicincang, atau dibuat finger food yang aman sesuai tahap perkembangan.

4. Jangan hanya fokus pada sayur dan buah

Salah satu jebakan dalam membuat “MPASI sehat” adalah menu terlihat penuh sayur, tetapi energi dan proteinnya kurang. WHO menyebut complementary foods harus menyediakan energi, protein, dan mikronutrien yang cukup. Kementerian Kesehatan juga menekankan menu lengkap yang mencakup sumber karbohidrat, protein hewani dan nabati, lemak, vitamin, serta mineral.

Baca Juga  Pola Makan Sehat Keluarga: Fondasi Kesejahteraan dan Kecerdasan Anak

Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan daging dapat membantu menyediakan protein berkualitas serta berbagai mikronutrien. Sumber karbohidrat menyediakan energi, sementara penambahan lemak dalam jumlah yang sesuai membantu meningkatkan kepadatan energi. Sayur dan buah tetap penting, tetapi bukan satu-satunya penentu kualitas MPASI.

5. Utamakan variasi, bukan satu “superfood”

Tidak ada satu bahan yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi bayi. Variasi bahan dari hari ke hari membantu memperluas paparan rasa dan menyediakan spektrum zat gizi yang lebih beragam. WHO merekomendasikan pola makan yang beragam pada periode complementary feeding, termasuk pangan sumber hewani, buah dan sayur, kacang-kacangan, serta bahan lokal yang kaya nutrisi.

6. Jangan takut memasak: keamanan pangan tetap prioritas

Keinginan mempertahankan vitamin tidak boleh membuat bahan diberikan kurang matang. Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap penyakit akibat makanan. MPASI harus disiapkan secara higienis, menggunakan tangan dan peralatan bersih, serta bahan makanan yang aman. Bahan hewani perlu dimasak matang. Untuk sayur, targetnya bukan “setengah mentah agar vitamin tidak hilang”, melainkan matang secukupnya sehingga aman dan teksturnya sesuai kemampuan anak.

Baca Juga  Sedang Promil? Konsumsi Madu Yuk, Terdapat 5 Manfaat Loh Termasuk Meningkatkan Kesuburan

7. Hindari pemanasan berulang yang tidak perlu

MPASI yang disimpan perlu ditangani dengan prinsip keamanan pangan. Secara editorial, artikel ini tidak menetapkan satu batas waktu penyimpanan universal karena durasi aman dipengaruhi jenis makanan, suhu lemari pendingin, cara pendinginan, wadah, dan pedoman lokal. Prinsip praktisnya: buat porsi yang terukur, dinginkan dan simpan dengan benar bila tidak langsung dimakan, ambil hanya porsi yang akan diberikan, dan hindari siklus memanaskan-mendinginkan makanan yang sama berkali-kali.

8. Perhatikan tekstur dan kemampuan makan anak

Nutrisi yang baik tidak akan optimal bila makanan sulit dimakan atau tidak sesuai perkembangan oral-motor anak. WHO menganjurkan konsistensi dan variasi makanan ditingkatkan bertahap seiring usia. Jadi, MPASI tidak perlu terus-menerus dibuat sangat halus. Tekstur perlu berkembang sesuai kemampuan anak, sambil tetap memperhatikan risiko tersedak.

Share this Article
Reading: MPASI Sehat Belum Tentu Nutrisinya Tetap Utuh: Cara Mengolah agar Gizi Anak Lebih Terjaga