HALLOBUNDA.CO – Ketika anak sulit fokus mengerjakan tugas atau mudah lupa instruksi, orang tua wajar bertanya apakah ada makanan yang bisa membantu kerja otaknya. Di internet, telur, ikan, susu, kacang, hingga suplemen tertentu sering diberi label “makanan otak”. Masalahnya, otak tidak bekerja berdasarkan satu bahan makanan. Fokus dan daya ingat muncul dari interaksi nutrisi, tidur, kesehatan, aktivitas fisik, emosi, lingkungan belajar, dan stimulasi.
UNICEF menempatkan nutrisi yang baik bersama pengasuhan responsif, kesehatan, rasa aman, dan kesempatan belajar sebagai fondasi perkembangan anak. Pada masa awal kehidupan, kebutuhan zat gizi sangat penting karena pertumbuhan otak berlangsung cepat. Setelah anak memasuki usia sekolah, pola makan tetap berperan karena otak membutuhkan energi dan zat gizi untuk menjalankan fungsi normal setiap hari.
Karena itu, pembahasan nutrisi otak anak sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “makanan apa yang bikin pintar?”. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: apakah anak makan cukup dan beragam, apakah sumber zat besi dan yodium hadir secara rutin, apakah ada protein dan lemak sehat, apakah anak melewatkan sarapan, dan apakah keluhan fokus sebenarnya berkaitan dengan tidur atau kondisi kesehatan lain?
Apa hubungan nutrisi dengan fokus dan daya ingat anak?
Otak membutuhkan energi secara terus-menerus untuk menerima informasi, mempertahankan perhatian, mengingat, mengatur emosi, dan mengendalikan gerakan. Zat gizi menyediakan energi sekaligus bahan untuk membran sel, neurotransmiter, hormon, enzim, dan penghantaran oksigen.
Namun hubungan ini bukan rumus sederhana “makan X = nilai sekolah naik”. WHO menekankan pola makan sehat yang beragam dan padat zat gizi untuk pertumbuhan serta kesehatan. Kekurangan mikronutrien tertentu dapat mengganggu fungsi tubuh dan perkembangan, tetapi memberi dosis ekstra pada anak yang kebutuhannya sudah tercukupi tidak otomatis meningkatkan kecerdasan.
Dengan kata lain, nutrisi membantu menciptakan kondisi biologis agar otak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Hasil belajar tetap dipengaruhi kualitas pengajaran, tidur, latihan, kesehatan mental, penglihatan dan pendengaran, serta kesempatan anak untuk bermain dan berinteraksi.