
5. Lebih banyak komentar, lebih sedikit interogasi
Percakapan akan cepat melelahkan jika setiap giliran orang tua berbentuk pertanyaan. Sisipkan komentar seperti, “Bunda juga pernah takut waktu dengar suara keras,” atau “Wah, sepertinya bagian itu paling seru.” Komentar memberi model bahasa sekaligus membuat anak merasa ceritanya benar-benar didengarkan.
6. Kaitkan cerita anak dengan pengalaman yang sudah dikenal
Jika anak bercerita tentang hujan di sekolah, hubungkan dengan pengalaman bersama: “Mirip waktu kita kehujanan di taman, ya. Waktu itu kita lari ke mana?” Menghubungkan pengalaman membantu anak mengingat urutan kejadian dan menemukan kata untuk bercerita.
7. Dua menit terakhir: rangkum dan beri jembatan untuk obrolan berikutnya
Tutup dengan rangkuman ringan, misalnya, “Jadi hari ini kamu senang karena main balok sama Raka, tapi kesal karena menaranya jatuh.” Bunda juga bisa memberi jembatan: “Besok kalau bikin menara lagi, cerita ke Bunda ya.” Anak belajar bahwa ceritanya bernilai dan dapat dilanjutkan.
Contoh Percakapan 10 Menit yang Tidak Terasa Seperti Latihan
Saat makan buah, anak berkata, “Apelnya manis.” Bunda bisa menjawab, “Iya, apel merah ini manis dan renyah.” Beri jeda. Jika anak melanjutkan, ikuti topiknya. Bila ia diam, Bunda dapat berkata, “Bunda paling suka apel dingin. Kamu lebih suka apel atau pisang?” Dari satu komentar sederhana, percakapan bisa berkembang menjadi rasa, warna, pilihan, pengalaman belanja, bahkan cerita tentang bekal sekolah.