Saat melahirkan anak pertamanya yang kini sudah berusia 4 tahun, Ariana mengalami depresi postpartum.
Tapi, beruntungnya bisa diatasi dengan terkendali oleh sang suami tercintanya.
Kehamilan keduanya pun bahkan lebih dipersiapkan lagi, jika Ariana mengalami depresi postpartum kembali, secara fisik dan juga mentalnya.
Namun, sangat di sayangkan kelahiran keduanya yang menghasilkan bayi kembar harus lahir secara prematur.
Dikutip dari laman people.com, menurut sang suami semua hal tersebut yang menjadi pemicu seorang Ariana terkena depresi pospartum.
“Beban depresi pasca persalinan menjadi terlalu berat untuk ditanggung olehnya (Ariana),” ungkap sang suami Ariana.
“Hati kami hancur saat kami menjalani hidup tanpa Ariana, anggota keluarga kami yang tak tergantikan,” sambungnya.
Depresi Postpartum tidak seperti baby blues yang biasanya akan hilang setelah beberapa minggu.
Bentuk depresi ini cenderung bertahan lebih lama dan sangat mempengaruhi kemampuan wanita untuk kembali ke fungsi normal.
Maka dari itu, para Bunda harus mewaspadai semua hal tersebut pasca persalinan jika tidak ingin mengalami hal-hal yang tidak menginginkan.
Pengertian Depresi Pospartum
Pospartum Depression adalah depresi yang terjadi setelah melahirkan, hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia di otak dan dialami oleh 10% ibu yang melahirkan.
Ada yang menganggap postpartum sama dengan baby blues, tetapi anggapan itu tidak benar.
Baby blues merupakan perubahan emosi (mood swing) yang umumnya menyebabkan sang ibu menangis terus-menerus, cemas, hingga sulit tidur setelah melahirkan.
Sedang postpartum lebih parah dibandingkan dengan baby blues, karena membuat penderitanya merasakan putus harapan.
Merasakan tidak menjadi ibu yang baik, sampai tidak mau lagi untuk mengurus anaknya.
Postpartum bukan hanya dialami oleh para Bunda, melainkan juga bisa dialami oleh Ayah. Postpartum pada Ayah paling sering terjadi 3-6 bulan setelah bayi lahir.
Seorang ayah bahkan lebih rentan terkena ketika istrinya juga menderita kondisi tersebut.