Rumah anak tersebut ditembaki oleh tentara Israel saat ia berusia 37 hari, hal tersebutlah yang menyebabkannya terjebak selama beberapa jam di bawah reruntuhan sebelum diselamatkan.
Mengejutkannya adalah ketika bayi Palestina tersebut masih hidup dan tidak adanya luka sama sekali.
Sehingga para penyelamat menggambarkan keberhasilan tersebut seolah-olah mereka sedang merayakan kelahiran kedua bagi bayi itu.
Misi tim SAR Palestina ini memakan waktu tiga jam lantaran sulitnya mencapai lokasi bayi yang berada di beberapa meter di bawah reruntuhan.
Pada awalnya tim penyelamat mengira bahwa bayi tersebut telah meninggal dunia, namun dengan harapan yang besar kami berjuang untuk mengeluarkannya.
Namun prediksi tim penyelamat pun salah, pada akhirnya dirinya ditemukan hidup dan tidak terluka di samping orang tuanya yang mati.
Kejadian ini sebenarnya telah terjadi beberapa hari lalu sebelum gencatan senjata diberlakukan.
Karena adanya kendala jaringan internet yang terputus pada hari kejadian, jadilah pemberitaannya baru-baru ini terjadi.
Operasi SAR terhadap korban yang belum ditemukan serta pembersihan reruntuhan rumah yang hancur akibat rezim Zionis kini aktif dilakukan lantaran kekurangan peralatan personel.
Pertahanan sipil di Gaza menghimbau partisipasi personel pertahanan sipil dari negara-negara Arab yang memiliki perlengkapan untuk menjalankan misi SAR lantaran belum menerima bantuan dan bantuan bahan bakar.
Ribuan warga pun dikhawatirkan masih terjebak di bawah reruntuhan, dan diperkirakan ratusan jenazah berada di RS Al-Quds dan RS Al-Rantisi.