Terlalu Fokus Pada Karier, Wanita di Korsel Makin Ogah Punya Anak

Lafa Zidan Alfaini
5 Min Read
Terlalu Fokus Pada Karier, Wanita di Korsel Makin Ogah Punya Anak
Yejin mengaku juga mendengar dari keluarga hingga kerabatnya, saat perempuan mengambil cuti untuk melahirkan, mereka mungkin tidak bisa kembali bekerja.
“Ada tekanan tersirat dari perusahaan saat kami mempunyai anak, kami harus meninggalkan pekerjaan kami,” katanya.
Berdasarkan survei Ipsos terhadap perempuan pekerja berusia 25 hingga 45 tahun yang dirilis Selasa (27/2), 62,2% responden menjawab tidak berencana untuk memiliki anak.
Perusahaan riset global itu melakukan survei online mengenai pengasuhan anak dan isu-isu terkait, dengan 1.000 perempuan pekerja di Korea Selatan dari tanggal 5 hingga 20 Februari 2024. Survei bekerja sama dengan The Korea Economic Daily.
Hasil penelitian juga menunjukkan, 66,6% responden yang belum menikah dan 59,2% responden yang sudah menikah menyatakan memilih untuk tidak memiliki anak.
Selain itu dari perempuan yang belum menikah, 55,0% mengatakan mereka tidak memiliki rencana untuk menikah.
Alasan mereka mengambil keputusan tersebut antara lain karena tidak ingin berkomitmen dalam mengasuh anak, tidak memiliki sumber daya finansial, atau takut anak dapat menjadi penghambat pencapaian mereka.
“Banyak orang merasa tidak nyaman bekerja dengan rekan kerja perempuan yang sedang hamil atau sudah membesarkan anak,” kata seorang pegawai negeri perempuan, 37 tahun.
“Hal ini membuat banyak pekerja perempuan berpikir bahwa kehamilan, persalinan, atau membesarkan anak dapat menjadi beban bagi perusahaan mereka,” tambah dia.
Alasan berikutnya, sebagian perempuan tak siap finansial untuk punya menikah dan punya anak. Mulai dari rumah, biaya pendidikan, hingga biaya kursus.
Guru kursus Bahasa Inggris berusia 39 tahun, Stella Shin, sudah menikah namun terdesak semakin jauh dari ibu kota, ke provinsi tetangga, dan masih belum mampu membeli rumah sendiri.
Ia tak punya anak karena tahu betul soal biaya pendidikan swasta, serta berbagai kelas ekstrakurikuler yang mahal mulai dari matematika, Bahasa Inggris, hingga musik dan Taekwondo.
Praktik kursus ini semakin menjadi budaya di Korsel. Anak yang tidak ikut serta seringkali dianggap gagal.
Sebuah studi pada 2022 menemukan, 2% orang tua tidak membayar uang sekolah privat, sementara 94% mengatakan hal tersebut merupakan beban keuangan.
Stella mengatakan, ia menyaksikan orang tua dapat menghabiskan hingga USD 890 per anak per bulan.
“Tetapi tanpa kelas-kelas ini (kursus), anak-anak akan tertinggal. Saat aku bersama anak-anak, aku ingin memilikinya, tapi aku tahu terlalu banyak,” katanya.
Responden survei Ipsos memperkirakan, rata-rata biaya untuk membesarkan seorang anak selama 19 tahun sejak kelahiran mereka adalah 252,1 juta Won atau setara Rp 2,9 miliar, 16% lebih tinggi dibandingkan tahun 2023 ketika survei serupa dilakukan.
“Banyak orang tua tidak dapat menolak kelompok bermain swasta yang mahal, taman kanak-kanak khusus berbahasa Inggris, dan sekolah persiapan sekolah kedokteran swasta untuk siswa sekolah dasar,” kata seorang ibu.
Banyak responden survei berpendapat bahwa pemerintah harus memberikan subsidi hingga 46,7% dari biaya-biaya tersebut.***
Baca Juga  Ibu Hebat, Bukan Superwoman: Cara Bijak Atur Waktu untuk Keluarga dan Diri Sendiri
TAGGED:
Share this Article
Reading: Terlalu Fokus Pada Karier, Wanita di Korsel Makin Ogah Punya Anak