HALLOBUNDA.CO – Sendok baru diletakkan di depan anak, tetapi mulutnya langsung rapat. Ia memalingkan wajah, mendorong piring, melepehkan makanan, atau hanya mau makanan tertentu. Perilaku ini sering disebut gerakan tutup mulut atau GTM. Bagi orang tua, yang paling mengkhawatirkan bukan hanya suasana makan yang melelahkan, tetapi pertanyaan: apakah nutrisi anak masih cukup?
GTM bukan diagnosis tunggal. IDAI menjelaskan bahwa penolakan makan pada batita dapat berkaitan dengan bosan, tidak lapar, sedang sakit, trauma terhadap makanan atau proses makan, maupun praktik pemberian makan yang kurang tepat. WHO juga menekankan responsive feeding: anak didampingi, didorong untuk makan tanpa dipaksa, dan pengasuh memperhatikan tanda lapar serta kenyang. Artinya, target utama bukan membuat satu piring selalu habis, melainkan membangun pola makan yang terstruktur sambil memastikan pertumbuhan tetap dipantau.
Apa yang dimaksud GTM anak?
GTM adalah istilah populer untuk perilaku anak menolak makan dengan menutup mulut atau menghentikan proses makan. Bentuknya dapat berupa memalingkan kepala, menangis, mendorong sendok, melepehkan makanan, atau hanya menerima beberapa jenis makanan. GTM dapat terjadi sesekali dan bersifat sementara, tetapi pada sebagian anak bisa berulang dan memengaruhi kecukupan asupan.
Pada masa batita, nafsu makan memang dapat berubah dari hari ke hari. Pertumbuhan tidak secepat tahun pertama, sementara anak semakin mandiri dan mulai memiliki preferensi. Penolakan terhadap makanan baru juga dapat muncul. Namun, istilah GTM tidak boleh digunakan untuk menutupi kemungkinan masalah medis atau feeding difficulty yang lebih kompleks. Bila penolakan makan disertai nyeri, muntah, tersedak, gangguan menelan, penurunan berat badan, atau keterlambatan perkembangan makan, anak perlu dievaluasi.