7 Cara Menghadapi GTM Tanpa Memaksa dan Tetap Menjaga Asupan

Syafaria Hadyandari
13 Min Read
Ayah menghadapi GTM anak tanpa memaksa saat makan
Ayah menghadapi GTM anak tanpa memaksa saat makan

1. Cari penyebab sebelum mengganti menu berkali-kali

Saat anak menolak makan, respons spontan sering berupa memasak menu baru sampai menemukan makanan yang mau dimakan. Sesekali fleksibel tidak masalah, tetapi jika selalu dilakukan, orang tua sulit mengetahui penyebab sebenarnya dan anak dapat belajar bahwa menolak menu akan menghasilkan pilihan favorit.

Periksa kondisi dasar terlebih dahulu. Apakah anak sedang demam, pilek, sariawan, tumbuh gigi, sakit tenggorokan, konstipasi, atau tampak kesakitan saat mengunyah? Apakah ia baru minum susu dalam jumlah besar atau menghabiskan camilan satu jam sebelum makan? Apakah tekstur terlalu keras atau ukurannya tidak sesuai kemampuan makan? Apakah proses makan sebelumnya penuh tekanan?

Catat pola selama tiga sampai tujuh hari: jam makan utama dan camilan, jumlah susu, jenis makanan yang diterima, durasi makan, gejala sakit, buang air besar, dan suasana makan. Catatan sederhana membantu membedakan GTM akibat jadwal, rasa tidak nyaman, tekstur, atau kemungkinan masalah lain.

Baca Juga  Si Kecil Gampang Jijik? GTM Bisa Terjadi Jika Tidak Ditangani Dengan Baik, Ini 3 Cara Atasinya

2. Susun jadwal agar anak memiliki kesempatan merasa lapar

Rasa lapar adalah bagian penting dari proses makan. Anak yang terus mengemil, minum susu, atau mendapat minuman berkalori sepanjang hari mungkin tidak cukup lapar saat makanan utama datang. IDAI menyarankan jadwal makan yang teratur dan membatasi waktu makan; praktik makan sambil berjalan-jalan atau bermain juga tidak dianjurkan.

Buat ritme yang dapat diprediksi: makan utama, camilan terjadwal, lalu jeda di antaranya. Air putih dapat tersedia sesuai kebutuhan. Susu tetap memiliki tempat dalam pola makan anak, tetapi jumlah dan waktunya perlu disesuaikan agar tidak menggantikan makanan utama. Untuk usia dan kebutuhan tertentu, jumlah susu perlu didiskusikan dengan dokter atau ahli gizi.

Tujuan jadwal bukan membuat anak kelaparan agar “menyerah”, melainkan memberi tubuh kesempatan mengenali siklus lapar dan kenyang. Bila anak menolak satu waktu makan, tetap tenang dan tawarkan kesempatan makan berikutnya sesuai jadwal.

Baca Juga  Influencer Vegan Tewas Diduga Karena Kelaparan, Ini Plus Minus Diet Vegan

3. Sajikan porsi kecil, padat gizi, dan tetap familiar

Ketika asupan sedang menurun, kualitas tiap suapan menjadi lebih penting. Sajikan porsi kecil agar piring tidak terasa mengintimidasi. Sertakan sumber energi, protein, lemak sehat, serta buah atau sayur sesuai kemampuan anak. Contohnya nasi lembut dengan telur dan sayur, kentang dengan ikan, oatmeal dengan susu dan buah, atau roti dengan telur dan alpukat.

Sertakan satu makanan yang biasanya diterima anak bersama menu keluarga. Makanan familiar dapat menjadi “jembatan” untuk melihat atau menyentuh makanan lain tanpa tekanan. Ini berbeda dari memasak menu pengganti setelah anak menolak. Orang tua tetap menentukan apa yang tersedia; anak diberi ruang menentukan apakah dan berapa banyak yang dimakan.

Untuk anak yang hanya mampu makan sedikit, makanan padat gizi seperti telur, ikan, daging, tempe, tahu, yogurt, alpukat, atau sedikit minyak pada masakan dapat membantu meningkatkan kepadatan energi tanpa memperbesar volume secara berlebihan. Kebutuhan individual tetap perlu disesuaikan dengan usia dan pertumbuhan.

Baca Juga  Si Kecil Sedang Batuk? Makan Pir Kukus Solusinya! Berikut 4 Manfaat yang Bisa Didapatkan

4. Terapkan responsive feeding: dorong, tetapi jangan memaksa

WHO menganjurkan pemberian makan responsif: dampingi anak, beri makan perlahan dan sabar, dorong untuk makan tanpa memaksa, ajak berbicara, dan perhatikan tanda lapar serta kenyang. Prinsip ini penting karena tekanan dapat membuat anak semakin defensif terhadap makanan.

Jika anak mengatupkan mulut, memalingkan kepala, atau menangis, hentikan dorongan sejenak. Tawarkan kembali dengan tenang. Bila ia tetap menolak, akhiri proses makan sesuai batas waktu yang konsisten. Hindari membuka mulut secara paksa, menahan tubuh, mengancam, mempermalukan, atau menggunakan dessert sebagai imbalan untuk menghabiskan makanan.

Orang tua dapat menggunakan kalimat netral: “Makanannya ada di sini kalau kamu mau mencoba,” atau “Kamu belum mau yang ini. Tidak apa-apa, nanti kita coba lagi.” Bahasa seperti ini menjaga batas tanpa mengubah penolakan menjadi perebutan kendali.

Share this Article
Reading: 7 Cara Menghadapi GTM Tanpa Memaksa dan Tetap Menjaga Asupan