3. Cerebral Palsy
Cerebral palsy merupakan penyakit yang mempengaruhi gerakan dan otot tubuh, kondisi ini bisa menyebabkan kelemahan otot dan masalah koordinasi.
Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, cerebral palsy berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi yang muncul selama masa kanak-kanak atau dewasa, termasuk skoliosis.
4. Distrofi Otot
Distrofi otot juga bisa menjadi penyebabnya, pada kondisi ini, gen abnormal mengganggu produksi protein yang dibutuhkan untuk membentuk otot yang sehat.
Akibatnya, kelemahan otot pun terjadi lantaran hilangnya massa otot.
Nah, otot yang lemah mungkin tidak bisa menahan tulang belakang tetap lurus sehingga menyebabkan tulang belakang melengkung secara tidak normal.
5. Cedera Tulang Belakang
Kondisi ini bisa terjadi akibat kerusakan pada tulang belakang, ligamen, atau cakram yang disebabkan oleh kecelakaan atau pukulan secara tiba-tiba ke tulang belakang.
Hal tersebutlah yang akan menyebabkan patah tulang belakang.
Selain itu, masalah pada tulang belakang juga bisa terjadi karena arthritis, kanker, peradangan, infeksi, atau degenerasi tulang belakang.
Pada beberapa kasus, cedera tulang belakang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalaminya.
6. Penyakit Genetik
Penyakit genetik tertentu juga bisa menjadi penyebab skoliosis, seperti sindrom marfan dan sindrom down.
Pada kasus sindrom marfan, penderitanya memiliki tubuh yang tinggi dan kurus, tulang dada menonjol keluar, serta tulang belakang melengkung secara tidak normal.
Sementara itu sindrom down, penderitanya bisa memiliki ketidaksejajaran pada dua tulang belakang paling atas di leher sehingga menyebabkan cedera serius di sumsum tulang belakang.
Kelengkungan tulang belakang yang sangat parah dapat mengurangi jumlah ruang di dalam dada sehingga menyulitkan paru-paru untuk berfungsi dengan baik.
Oleh karena itu, ada baiknya bila penyebabnya sudah terdeteksi sejak dini untuk mencegah kondisi yang lebih parah.
Jika anak terlihat tidak bisa berdiri tegak atau Bunda dan Ayah mengalami tanda-tandanya juga, sebaiknya periksakan diri ke dokter agar bisa diberikan penanganan yang sesuai.***