Tak sedikit dari masyarakat di seluruh belahan dunia yang merokok ini sudah beralih menggunakan rokok elektrik.
Karena banyak yang memiliki persepsi bahwa rokok tersebut lebih aman bagi mereka dan orang lain disekitarnya.
Namun, ada bahan kimia dalam cairan yang digunakan dalam vape, yang berbahaya bagi Ayah sendiri dan orang-orang terkasih yang terpapar uap.
Para peneliti juga telah mencoba meneliti sekelompok anak pada usia yang sama, namun orang tuanya tidak menggunakan vape atau rokok.
Kemudian, anak-anak tersebut diambil darahnya untuk dinilai seberapa besar risikonya sebagai perokok pasif.
Bukan hanya itu saja, tim yang menguji air liur dan napas anak-anak untuk menentukan bahan kimia apa yang telah terpapar oleh mereka.
Hasilnya mengejutkan, anak-anak yang orang tuanya pakai vape setiap hari ditemukan peningkatan kadar metabolit atau molekul.
Terbentuk di dalam tubuh setelah terpapar bahan kimia yang ditemukan di dalam rokok elektrik tersebut.
Dampaknya, bahan kimi tersebut dapat menurunkan kadar dopamin dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan sel akibat stres oksidatif.
Tentunya hasil penelitian tersebut juga dipaparkan kepada orang tua, dan banyak yang terkejut dengan hasilnya.
Sekitar 11 dari 19 orang tua pengguna rokok elektrik tersebut percaya bahwa vaping hanya akan menimbulkan bahaya kesehatan ringan.
Atau justru tidak membahayakan kesehatan sama sekali, dan 12 dari 22 orang tua pengguna tidak mengetahui paparan uap rokok elektronik berbahaya bagi anak-anak.
Di sisi lain, beberapa dokter juga menyebut bahwa nikotin dalam vape sekitar 90-95 persen tidak lebih berbahaya dibandingkan menghisap rokok tradisional.
Tapi, sampai sekarang efek bahayanya masih terus diteliti, untuk mengetahuinya lebih jauh.
Peneliti lain juga menunjukan bahwa vape sama berbahayanya dengan rokok tradisional yang biasa mereka hisap.
Karena bisa mengandung lebih dari 7000 bahan kimia berbahaya dalam asap yang dikeluarkan.