2. Keracunan Makanan
Keracunan makanan terjadi pada satu dari enam orang per tahun , dan gejala seperti demam, menggigil, kram perut, diare, mual, dan muntah jelas bukan hal yang menyenangkan.
Keracunan makanan dapat terjadi karena mengonsumsi makanan kadaluwarsa jika terkontaminasi atau rusak, namun hal ini tidak selalu mungkin terjadi.
Namun, hal ini lebih sering terjadi pada makanan yang mudah rusak seperti telur, daging, buah-buahan, dan sayuran, karena jamur, rasa asam, warna atau tekstur yang aneh, dan bau yang tidak sedap lebih mudah terdeteksi.
Penting untuk memantau kapan barang-barang ini dibeli sehingga tahu jika Bunda berisiko jika memakan sesuatu setelah terlalu lama.
Sudah menjadi sifat manusia jika ada sesuatu yang berbau, terlihat, atau terasa busuk, Bunda tetap tidak akan mau memakannya.
3. Hilangnya Nilai Gizi
Meskipun makanan dapat kehilangan kualitasnya dan menjadi terasa tidak enak atau basi setelah tanggal kedaluwarsanya.
Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah seiring berjalannya waktu, makanan juga dapat kehilangan nilai gizinya.
Hal ini khususnya berlaku pada susu formula bayi, yang merupakan satu-satunya item yang peraturan federal mewajibkan tanggal ‘gunakan sebelum’ pada label produk.
Sebuah studi tentang memaksimalkan nilai gizi buah-buahan dan sayur-sayuran juga mencatat bahwa hilangnya nilai gizi terjadi pada produksi antara saat panen.
Waktu di toko sebelum pembelian, dan waktu konsumen menyimpan buah dan sayur sebelum dikonsumsi.