Apa yang Membuat Anak Sulit Mengikuti Arahan?
- Instruksi terlalu panjang atau memuat terlalu banyak langkah untuk kemampuan saat ini.
- Anak belum memahami kosakata atau konsep seperti sebelum, sesudah, di bawah, di belakang, atau yang kedua.
- Perhatian anak sedang tertuju kuat pada aktivitas lain.
- Lingkungan terlalu ramai atau penuh distraksi.
- Working memory belum cukup untuk mempertahankan beberapa langkah sekaligus.
- Anak lelah, lapar, sedang frustrasi, atau transisi terasa sulit.
- Instruksi diberikan terlalu cepat tanpa waktu pemrosesan.
- Ada kekhawatiran terkait pendengaran, bahasa reseptif, perkembangan, atau kebutuhan lain yang memerlukan evaluasi profesional.
10 Latihan Mengikuti Instruksi yang Bisa Dilakukan Sambil Bermain
1. “Kasih ke Bunda” — Instruksi Satu Langkah
Fokus stimulasi: Bahasa reseptif dasar, perhatian bersama, tindakan sederhana.
Mulai dengan benda yang sudah dikenal: bola, mobil, sendok mainan, atau boneka. Letakkan dua benda di dekat anak. Katakan, “Kasih bola ke Bunda.” Tunggu beberapa detik. Jika perlu, bantu dengan gestur sekali, lalu kurangi bantuan pada percobaan berikutnya.
Jangan mengulang perintah berkali-kali dalam tempo cepat. Beri waktu anak memproses. Setelah berhasil, respons dengan komentar natural seperti, “Iya, bolanya untuk Bunda!”
2. Instruksi dengan Gerakan Tubuh
Fokus stimulasi: Pemahaman kata kerja, imitasi, kontrol tubuh.
Gunakan arahan seperti “tepuk tangan”, “angkat tangan”, “duduk”, “berdiri”, atau “sentuh kepala”. Lakukan dalam permainan bergiliran: Bunda memberi satu arahan, lalu anak boleh memilih gerakan untuk Bunda.
Untuk anak yang masih belajar, contohkan gerakan. Setelah familiar, coba berikan instruksi tanpa contoh visual.
3. Ikuti Pemimpin
Fokus stimulasi: Perhatian, imitasi, inhibitory control, fleksibilitas.
Bunda menjadi pemimpin dan membuat urutan sederhana: jalan, berhenti, putar badan. Setelah anak memahami permainan, berganti peran agar anak memberi instruksi.
Mulai dengan satu aksi per giliran. Tambahkan dua aksi setelah anak stabil, misalnya “lompat lalu tepuk tangan”.
4. Bereskan Mainan Berdasarkan Instruksi
Fokus stimulasi: Rutinitas, bahasa reseptif, klasifikasi, fungsi eksekutif.
Alih-alih berkata “Bereskan semuanya”, pecah menjadi tugas konkret: “Masukkan mobil ke kotak.” Setelah selesai: “Sekarang taruh buku di rak.”
Visual berupa foto kotak mainan atau rak dapat membantu anak memahami urutan, terutama bila rutinitas masih baru.
5. Misi Warna
Fokus stimulasi: Pemahaman atribut, perhatian selektif, memori.
Letakkan beberapa benda dengan warna berbeda. Katakan, “Ambil balok merah.” Setelah mudah, tambahkan tindakan: “Ambil balok merah lalu taruh di mangkuk.”
Pastikan anak memang sudah memahami warna sebelum warna dijadikan bagian penting dari instruksi. Jika belum, gunakan atribut yang lebih familiar.