Namun sebagian orang masih tidak menganggap istilah marital rape, sebab tak sedikit yang memiliki persepsi bahwa tidak akan ada pemerkosaan di dalam rumah tangga.
Penting untuk diinggat bahwa setuju untuk menikah tidak sama dengan setuju untuk mengikuti kemauan semua pasangan.
Pastinya setiap individu memiliki otoritas untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain, termasuk pasangannya.
Kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, memiliki banyak wajah, hal ini terjadi satu kali saja, dan mungkin juga disertai dengan perilaku kasar lainnya.
Dalam hubungan romantis dan pernikahan, pemaksaan seks masih merupakan kekerasan seksual, dan tersebut bukanlah kesalahan korban.
Jika perempuan pernah mengalami kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, dari seseorang yang telah dikencani, ada bantuan yang tersedia dan cara untuk mengatasinya.
Pemerkosaan ini mengacu pada memaksa atau memanipulasi orang lain untuk melakukan hubungan seksual yang tidak diinginkan.
Hal tersebut merupakan pelecehan seksual, meskipun dilakukan oleh seseorang yang pernah kencan atau nikahi.
Pemerkosaan dalam hubungan yang romantis dan pernikahan dianggap sebagai kekerasan intim, hal ini termasuk hubungan secara paksa dan kekerasan seksual antar pasangan.
Pelecehan seksual bukan hanya berupa kekerasan yang terang-terangan, pada artinya pengunaan kekerasan bukanlah satu-satunya hal yang menjadikan penyerangan tersebut salah satu pelanggaran integritas.