Dinkes DKI Jakarta juga masih melakukan penelusuran epidemiologis lebih lanjut terkait mycoplasma pneumonia pada tiga pasien anak tersebut.
Ketiga anak itu kemudian dilakukan PCR untuk mengetahui spesifik kuman penyebab pneumonia untuk memberikan terapi yang lebih spesifik dan mencegah resistensi antibiotik.
Pemeriksaan ini juga bukanlah sebuah kewajiban lantaran dilakukan secara mandiri atau berbayar.
Ngabila juga menyebutkan gejala utama yang dikeluhkan oleh pasien, sesak napas menjadi gejala yang dominan.
Gejala utamanya sesak napas karena radang paru atau pneumonia,” ujar Ngabila.
Ngabila juga mengimbau masyarakat, khususnya orang tua untuk mewaspadai kemungkinan penularan penyakit tersebut.
Utamanya, di peralihan musim seperti sekarang di mana kekebalan tubuh umumnya akan menurun.
“Pencegahan perlu digalakkan dengan perilaku hidup bersih dan sehat dikencangkan” ungkap Ngabila.
Tak berakhir sampai di situ, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI Imran Pambudi membuka suara soal penyakit itu.
Dari laporan yang telah diterima oleh Kemenkes, tercatat ada tiga pasien anak yang dilaporkan mengalami gejala bakteri mycoplasma.
“Iya, sudah ada laporan lisan, sekarang sedang dalam konfirmasi ke fasilitas kesehatan,” ungkap Imran.
Dari kabar tiga pasien anak yang terkena mycoplasma pneumonia dihimpun oleh Dinas Kesehatan Jakarta, laporan tersebut datang dari rumah sakit swasta, namun tidak disebutkan nama rumah sakitnya.
Pihak rumah sakit tersebut melihat gejala klinis pasien anak yang mengarah ke mycoplasma pneumonia.