Pemuda Indonesia Juga Malas Punya Anak
Saat ini meningkatnya fenomena waithood ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh gerakan childfree yang mulai masuk ke Indonesia.
Anggapan bahwa memiliki keluarga atau anak sebagai beban pun tak terelakkan.
Akibatnya sebagian perempuan memilih untuk menunda kehamilan atau kelahiran.
Lebih ekstrem lagi, baik perempuan maupun pria, saat ini lebih memiliki untuk menunda pernikahan.
Jadi, bukan cuma malas menikah saja, indikasi keengganan generasi muda memiliki momongan juga semakin besar.
Tak hanya itu saja, isu melonjaknya angka perceraian, kesepian finansial, dan KDRT juga kerap menjadi alasan mengapa anak-anak muda memilih untuk malas menikah.
Mengatasi dengan Kerja Sama Lintas Sektoral
Pernikahan yang terlalu dini tanpa diimbangi dengan kesiapan finansial berisiko meningkatkan angka stunting.
Sementara hamil dalam usia yang sudah terlalu tua akan membuat risiko melahirkan anak berkebutuhan khusus juga semakin meningkat.
Jadi untuk menyikapi kasus ini dibutuhkan kerja sama lintas sektoral. lantaran sudah bukan menjadi lagi bonus demografi, namun akan menyebabkan angka dependensinya akan tinggi, maka dari itu harus diperhatikan.
Jika dilihat dari fakta-fakta di atas terkait pemuda Indonesia yang sudah malas menikah berbanding terbalik dengan kejadian di Ponorogo.
Diketahui, ratusan pemuda di Ponorogo banyak melakukan permohonan untuk dispensasi nikah.