6. Wajah dan Suara Emosi
Fokus stimulasi: Pengenalan emosi, bahasa, dan perspektif sosial.
Pilih emosi seperti senang, kecewa, kaget, atau khawatir. Buat ekspresi dan kalimat pendek: “Aku kecewa karena menaraku jatuh.” Anak boleh menebak, meniru, atau membuat skenario sendiri.
Variasi & catatan: Tidak ada ekspresi yang harus ‘sempurna’; fokus pada kosakata dan konteks.
7. Sortir Kilat dengan Aturan Berubah
Fokus stimulasi: Fleksibilitas kognitif, klasifikasi, dan perhatian.
Gunakan kaus kaki, balok besar, atau kartu. Dua menit pertama sortir berdasarkan warna. Lalu ubah aturan menjadi ukuran atau jenis. Ucapkan perubahan aturan dengan jelas.
Variasi & catatan: Gunakan benda aman dan jumlah sedikit agar tidak berubah menjadi tugas beres-beres.
8. Jalan Garis Imajinasi
Fokus stimulasi: Keseimbangan, kontrol tubuh, dan imajinasi.
Buat garis aman dengan selotip kertas di lantai atau gunakan garis ubin. Anak berjalan seolah melewati jembatan, sungai, atau jalan menuju planet lain. Tambahkan instruksi berhenti, putar, atau jongkok.
Variasi & catatan: Pastikan lantai tidak licin dan tidak dekat tangga.
9. Apa yang Berubah?
Fokus stimulasi: Memori visual, observasi, dan bahasa deskriptif.
Letakkan empat benda. Anak mengamati, lalu menutup mata. Pindahkan atau hilangkan satu benda. Anak menebak perubahan dan menjelaskan sebisanya.
Variasi & catatan: Mulai dari tiga benda untuk anak yang lebih kecil.
10. Bangun Jembatan untuk Mainan
Fokus stimulasi: Problem solving, motorik halus, dan sebab-akibat.
Gunakan balok besar, kotak kecil, atau gulungan tisu untuk membuat jembatan agar mobil/boneka bisa lewat. Biarkan anak mencoba, gagal, memperbaiki, dan menguji ulang.
Variasi & catatan: Orang tua memberi petunjuk secukupnya, bukan langsung memperbaiki.
Permainan 10 Menit dan Fokus Anak
Permainan singkat dapat membantu anak berlatih mempertahankan perhatian pada aktivitas yang menarik, tetapi jangan menjadikannya tes konsentrasi. Daya tahan fokus dipengaruhi usia, minat, tidur, kondisi tubuh, lingkungan, dan tingkat kesulitan tugas. Jika anak meninggalkan permainan, periksa apakah aktivitas terlalu mudah, terlalu sulit, atau memang tidak menarik.
Untuk melatih fungsi eksekutif, permainan dengan aturan sederhana, giliran, memori, dan perubahan aturan dapat memberi kesempatan berlatih. Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa executive function dan self-regulation berkembang melalui pengalaman dan latihan, termasuk permainan yang menuntut perhatian, memori kerja, dan kontrol diri.