Bermain Jadi Lebih Bermakna: 10 Permainan Peran untuk Melatih Bahasa dan Emosi Anak

Syafaria Hadyandari
14 Min Read
ibu dan anak bermain peran untuk melatih bahasa dan emosi
Ibu dan anak bermain peran untuk melatih bahasa dan emosi

HALLOBUNDA.COSaat si Kecil menyuapi boneka, berpura-pura menjadi dokter, atau mengubah sofa menjadi bus, ia bukan hanya sedang “bermain-main”. Dalam permainan peran, anak menggunakan kata, gerak, ingatan, dan imajinasi untuk memahami pengalaman sehari-hari. Ia belajar menyusun cerita, menyampaikan keinginan, menunggu giliran, membaca ekspresi, serta mencoba melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Karena itulah permainan peran untuk anak dapat menjadi jembatan yang alami antara perkembangan bahasa dan keterampilan sosial-emosional.

Aktivitas ini tidak menuntut mainan mahal atau skenario sempurna. Kotak bekas bisa menjadi meja kasir, sendok kayu dapat berubah menjadi mikrofon, dan boneka dapat menjadi “teman” yang sedang kecewa. Yang paling penting adalah adanya interaksi responsif: orang tua mengikuti minat anak, memberi ruang bagi jawabannya, lalu menambahkan kata atau ide secukupnya. Interaksi bolak-balik semacam ini membantu anak menghubungkan pengalaman, bahasa, dan perasaan dalam suasana yang aman.

Baca Juga  Alami Separation Anxiety, Anak Tasya Kamila Sempat Tak Mau Sekolah, Begini 3 Cara Atasinya

Mengapa Permainan Peran Mendukung Bahasa dan Emosi?

Dalam role play, anak menggunakan simbol: satu benda mewakili benda lain, satu tindakan mewakili kejadian, dan satu tokoh membawa sudut pandang tertentu. Ketika sebuah balok dianggap sebagai telepon, anak mulai memahami bahwa makna dapat diciptakan dan dibagikan. Keterampilan simbolik ini berdekatan dengan bahasa karena kata juga merupakan simbol yang mewakili benda, tindakan, gagasan, dan perasaan.

Permainan peran juga menyediakan alasan nyata untuk berbicara. Anak perlu meminta “obat”, menjelaskan menu, menawar harga, memberi instruksi, atau menenangkan tokoh yang sedih. Percakapan menjadi lebih bermakna karena kata dipakai untuk mencapai tujuan dalam cerita. Di saat yang sama, anak berlatih mengenali emosi: tokoh mana yang takut, mengapa boneka marah, bagaimana cara meminta maaf, dan apa yang dapat dilakukan agar situasi membaik.

Baca Juga  Si Kecil Suka Melempar Benda? Tenang Bunda, Begini Cara Bijak Menghadapinya

American Academy of Pediatrics menekankan bahwa bermain mendukung kemampuan merencanakan, berinteraksi, dan mengatur emosi. NAEYC juga menjelaskan bahwa dramatic play membantu perkembangan bahasa, literasi, berpikir kritis, negosiasi, kerja sama, dan perspective taking. Harvard Center on the Developing Child menyoroti pentingnya interaksi “serve and return”, termasuk ketika orang dewasa menamai apa yang anak lihat, lakukan, atau rasakan. Prinsip-prinsip tersebut menjadi dasar pendekatan artikel ini.

Share this Article
Reading: Bermain Jadi Lebih Bermakna: 10 Permainan Peran untuk Melatih Bahasa dan Emosi Anak