HALLOBUNDA.CO – Ketika mendengar bunyi “tok-tok” dari pintu, si Kecil mungkin tertawa lalu mencoba menirukannya. Momen sederhana ini dapat menjadi awal percakapan. Anak tidak hanya mendengar suara, tetapi juga belajar memperhatikan, bergiliran, memberi respons, dan menghubungkan bunyi dengan benda atau peristiwa.
Latihan meniru bunyi untuk anak tidak harus berupa sesi mengulang kata di meja belajar. Bunda dapat memanfaatkan suara saat bermain dan menjalani rutinitas. Yang penting, permainan mengikuti minat anak, dilakukan dengan nyaman, dan tidak dijadikan tes yang harus selalu dijawab benar.
Mengapa Meniru Bunyi Bisa Mendukung Komunikasi?
Meniru suara merupakan salah satu cara anak bereksperimen dengan bunyi dan interaksi sosial. Ketika Bunda membuat suara lalu menunggu balasan, anak mendapat kesempatan berlatih mengambil giliran. Namun, kemampuan meniru bunyi saja tidak menentukan apakah perkembangan bahasa sesuai usia. Pemahaman, gestur, kosakata, kemampuan bermain, dan respons terhadap suara juga perlu diperhatikan.
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menganjurkan komunikasi melalui bermain, berbicara, membaca, dan merespons anak. Karena itu, gunakan bunyi sebagai pintu masuk percakapan bermakna, bukan sekadar mengejar pengucapan sempurna.
7 Permainan Meniru Bunyi untuk Anak di Rumah
1. Detektif suara dari balik pintu
Buat bunyi ringan seperti “tok-tok” di pintu atau meja. Tanyakan, “Suara apa itu?” lalu ajak anak mencari sumbernya. Setelah ditemukan, beri contoh: “Tok-tok, ada yang mengetuk!” Anak boleh meniru suara, menunjuk, atau menjawab dengan kata sesuai kemampuannya. Hindari suara terlalu keras atau mengejutkan.
2. Orkestra dapur yang aman
Gunakan sendok kayu dan wadah plastik untuk membuat pola “duk-duk” atau “ting-ting”. Bunda membuat satu pola pendek, kemudian memberi giliran kepada anak. Sesekali ubah tempo menjadi cepat atau lambat. Fokusnya mendengarkan dan bergantian, bukan menuntut anak meniru pola rumit. Pastikan alat tidak tajam dan sesuai usia.
3. Petualangan kendaraan mini
Mainkan mobil-mobilan, kereta, atau pesawat sambil menambahkan bunyi “brum”, “tut-tut”, atau “wus”. Setelah anak tertarik, perluas menjadi kalimat: “Mobilnya brum, naik jembatan!” Anak dapat menambahkan bunyi, gerakan, atau kata. Permainan ini menghubungkan suara dengan aksi dan makna.
4. Tebak suara hewan dalam cerita
Ambil dua atau tiga gambar hewan. Bunda bisa berkata, “Di kebun ada sapi. Moo!” lalu berhenti sejenak untuk memberi kesempatan anak melanjutkan. Jika ia belum merespons, lanjutkan cerita tanpa memaksa. Saat anak nyaman, ajak membuat cerita pendek tentang hewan yang sedang makan atau tidur.

Subscribe to my channel