Hal itu dilakukan secara berulang-berulang dari sang bayi diangkat secara telentang lalu kembali digoyang-goyangkan.
Terlihat dalam melakukan ritual bayi, anak dalam video hanya bisa terdiam saja tidak melakukan gerakan dan tidak menangis.
Namun ritual bayi tersebut bisa saja membuat si Kecil bisa terkena penyakit pernapasan lantaran terlalu banyak menghirup asap.
Dari segi medis juga ritual tersebut tak dianjurkan lantaran berisiko bagi kesehatan si Kecil.
Sebab imunitas si Kecil yang baru lahir masih sangat rentan dan organ tubuhnya belum cukup matang untuk menghirup asap begitu banyaknya saat melakukan ritual bayi tersebut.
Paparan asap pada si Kecil bisa saja akan menyebabkan penyakit salah satunya seperti bronkitis dan pneumonia yang berdampak buruk bagi paru-paru bayi.
Bayi yang baru lahir, lebih rentan terhadap berbagai gangguan pernapasan.
Itulah sebabnya, lebih baik tidak melakukan hal yang menyebabkan bayi bisa terkena penyakit jika menghirup asap terlalu banyak.
Bunda juga pasti bertanya-tanya, apa saja sih bahaya yang bisa menyerang si Kecil jika terpapar asap?
Berikut penyakit pernapasan yang rentan dialami oleh bayi baru lahir, jika terkena asap.
Bahaya Melakukan Ritual Bayi 40 hari
Ketika anak-anak dan bayi jika terpapar asap, bisa saja zat yang tidak baik bisa memasuki tubuh dan mengganggu kesehatan.
Dikutip dari situs American Academy of Pediatrics, ada beberapa bahaya yang akan menyerang jika bayi terkena asap baik dalam jangka pendek dan dalam jangka panjang, seperti:
- Memiliki risiko lebih besar untuk mengidap infeksi pernapasan akut, seperti pneumonia dan bronkitis.
- Lebih rentan mengidap, batuk dan napas pendek yang juga umum ditemui pada anak serta bayi yang terpapar asap.
- Memiliki gejala lain seperti hidung mampet, sakit kepala, sakit tenggorokan, iritasi mata, dan suara serak.
- Memicu serangan asma yang lebih sering dan lebih parah pada anak sehingga mengancam nyawanya.
- Miliki risiko katarak atau gangguan penglihatan yang lebih serius.
- Lebih rentan untuk mengalami sakit jantung.
- Memiliki gangguan perkembangan paru-paru sehingga tidak bisa berkembang secara sempurna.
- Memiliki risiko lebih tinggi untuk mengidap kanker paru-paru.