Imam Ibnu Katsir juga dalam kitab tafsirnya menjelaskan, anak yang dimaksud adalah Nabi Ismail yang lebih tua daripada Nabi Ishaq AS.
Hal ini merupakan kesepakatan kaum Muslim dan kaum Ahli Kitab.
“Bahkan di dalam nas kitab-kitab mereka disebutkan bahwa ketika Ibrahim AS mempunyai anak Ismail, ia berusia delapan puluh enam tahun. Ketika beliau mempunyai anak Ishaq, usia beliau sembilan puluh sembilan tahun,” jelas Ibnu Katsir.
Diceritakan pada suatu malam, Nabi Ibrahim bermimpi untuk menyembelih putranya, Ismail.
Ketika Ismail telah sampai pada usia sanggup bekerja bersama Ibrahim AS, Ubaid ibnu Umair mengatakan bahwa mimpi para nabi adalah sebuah wahyu.
Hadits yang menyatakan hal ini terdapat dalam kitab-kitab Sittah.
Disebutkan dalam sebuah riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas RA, Mujahid, Ikrimah, S’id Ibnu Jubair, Ata Al-Khurasani, dan Zaid ibnu Aslam dan lainnya.
Maksud dari firman-Nya ‘Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya adalah tumbuh dewasa dan dapat bepergian dan bekerja seperti ayahnya.’
Saat Nabi Ibrahim membaringkan putranya yang siap untuk disembelih dan keduanya tunduk berserah diri kepada kehendak Allah SWT.
Maka digantikanlah Nabi Ismail As dengan seekor sembelihan yang besar, dalam sebuah riwayat mengatakan binatang sembelihan itu adalah kambing gibas.
Asal Usul Kurban Pertama Kali
Asal-usul seputar kurban juga pernah terjadi sebelum Islam, peristiwa ini terjadi di masa Nabi Adam AS.
Kurban di masa tersebut telah dilakukan oleh anak-anak Nabi Adam AS.
Menurut tafsir Jalalain, al-Qurthubi, dan Ibnu Katsir, termasuk dalam tafsir Kementerian Agama RI anak Nabi Adam AS yang dimaksud dalam hal ini adalah Qabil dan Habil.
Mereka adalah anak pertama dan kedua Nabi Adam AS.
Kisah ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al Maidah ayat 27-31, Allah SWT berfirman:
Artinya: “Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sesungguhnya aku ingin engkau kembali (kepada-Nya) dengan (membawa) dosa (karena membunuh)-ku dan dosamu (sebelum itu) sehingga engkau akan termasuk penghuni neraka. Itulah balasan bagi orang-orang yang zalim.” Kemudian, hawa nafsunya (Qabil) mendorong dia untuk membunuh saudaranya. Maka, dia pun (benar-benar) membunuhnya sehingga dia termasuk orang-orang yang rugi.”