Hal itu dapat menyebabkan seseorang merasa mudah marah, ditinggalkan, ditolak, dan tertekan secara keseluruhan.
Menjadi sasaran silent treatment merupakan tantangan bagi siapa saja, tetapi hal ini khususnya sulit bagi seseorang yang sudah memiliki harga diri rendah serta keterikatan yang cemas.
Bagian dari pola ini mencakup ketakutan akan stabilitas dan ketergantungan hubungan.
Selanjutnya, lebih dari yang lain, mereka mungkin cepat merasakan penolakan yang intens dan ketakutan akan kehilangan.
Oleh karena itu, silent treatment dapat berdampak pada hubungan, meskipun orang yang diam mencoba menghindari konflik.
5 Cara Menanggapi Silent Treatment
Melansir dari laman Choosing therapy, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini dan belajar berkomunikasi dengan lebih efektif.
1. Tetapkan Batasan yang Sehat
Menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan penting untuk menentukan kapan keheningan dan ruang menjadi terlalu berlebihan.
Jika melakukan kesalahan, sampaikan permintaan maaf. Namun, hindari meminta maaf jika tidak melakukan kesalahan apapun.
2. Bangun Komunikasi yang Sehat
Salah satu cara untuk menciptakan komunikasi yang sehat dalam suatu hubungan adalah dengan menciptakan percakapan yang terstruktur.
Ini berarti mengubah pola komunikasi Bunda dan pasangan.
Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan mempelajari aturan-aturan yang adil dalam hubungan.
3. Lakukan Perawatan Diri
Silent treatment dapat merusak kesehatan emosional seseorang, jadi penting bagi Bunda untuk menjaga diri sendiri selama situasi ini.
Lakukan sesuatu untuk diri sendiri untuk memastikan terhindar dari kelelahan emosional.
4. Tenangkan Diri
Menenangkan diri akan sangat membantu masing-masing pihak meluangkan waktu untuk menenangkan diri sebelum membahas masalah tersebut dengan tenang.
5. Hindari Menganggapnya Sebagai Hal Pribadi
Jika menganggapnya sebagai sesuatu yang personal, Bunda akan merasa lebih buruk, menjadikannya tentang Bunda, dan pasangan tidak perlu menanggung kesalahan atau tanggung jawab apapun.***