HALLOBUNDA.CO – Si Kecil sudah banyak bicara, tetapi beberapa katanya masih sulit dipahami? Kondisi ini cukup sering membuat orang tua bertanya apakah pengucapannya masih sesuai tahap perkembangan atau perlu segera dilatih. Artikulasi adalah cara organ bicara—seperti bibir, lidah, rahang, dan aliran udara—bekerja untuk menghasilkan bunyi ujaran. Seiring bertambahnya usia, anak biasanya semakin mampu mengucapkan lebih banyak bunyi dengan jelas. Namun prosesnya bertahap dan tidak sama pada setiap anak.
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menjelaskan bahwa kesulitan menghasilkan bunyi dapat disebut speech sound disorder, yang mencakup persoalan artikulasi maupun pola bunyi atau fonologi. ASHA juga menyebut bahwa sebagian besar anak sudah dapat mengucapkan hampir semua bunyi dengan benar sekitar usia 4 tahun. Meski demikian, kemampuan dipahami orang lain, pola kesalahan, bahasa yang digunakan di rumah, dan perkembangan keseluruhan tetap perlu dinilai bersama.
Apa Bedanya Artikulasi, Bicara, dan Bahasa?
Bicara adalah produksi suara dan kata secara lisan. Artikulasi merupakan salah satu bagian dari bicara, yaitu ketepatan membentuk bunyi. Sementara bahasa adalah kemampuan memahami dan menyampaikan makna. Anak dapat memiliki kosakata yang baik, tetapi pengucapan beberapa bunyinya belum jelas. Sebaliknya, ada pula anak yang bunyinya cukup jelas tetapi masih kesulitan memahami instruksi atau menyusun kalimat. Karena itu, stimulasi artikulasi tidak sebaiknya dipisahkan dari percakapan yang bermakna.
7 Stimulasi Artikulasi Sederhana melalui Aktivitas Harian
1. Meniru bunyi yang dekat dengan keseharian
Gunakan bunyi kendaraan, binatang, atau benda saat bermain: “brum-brum”, “meong”, “tik-tok”, dan “duk-duk”. Meniru bunyi membantu anak memperhatikan perbedaan suara tanpa merasa sedang diuji. Pilih bunyi yang mudah lalu kembangkan menjadi kata, misalnya “mbee” menjadi “kambing”.
2. Bermain di depan cermin
Ajak anak mengamati wajah saat membuat bunyi atau mengucapkan kata sederhana. Bunda dapat mencontohkan gerakan bibir secara natural, lalu membiarkan anak mencoba. Cermin membantu anak memperoleh petunjuk visual, tetapi hindari memegang atau memaksa posisi lidahnya tanpa arahan profesional.
3. Membaca buku dengan pengulangan kata
Pilih buku dengan kata berulang, gambar jelas, dan kalimat pendek. Tekankan satu atau dua kata kunci, lalu beri kesempatan anak melengkapinya. Misalnya, “Kucingnya sedang … tidur.” Kegiatan ini menggabungkan pendengaran, kosakata, makna, dan produksi kata.
4. Memperlambat model ucapan, bukan menyuruh mengeja
Ketika anak mengucapkan kata kurang jelas, tanggapi maknanya lalu berikan model yang benar secara perlahan. Jika anak berkata “teta” untuk “kereta”, Bunda dapat menjawab, “Iya, keretanya panjang.” Cara ini memberi contoh tanpa mempermalukan atau memintanya mengulang berkali-kali.