Selain itu, minimnya fasilitas seperti ruang menyusui yang tenang semakin memengaruhi keputusan mereka untuk tidak menyusui di tempat umum, seperti dikutip dari laman Chosun.
Seorang ibu pekerja berusia 30 tahun yang memiliki bayi berusia lima bulan berkata, “Saya hanya mengambil cuti selama tiga bulan setelah melahirkan karena saya ingin mengambil cuti pengasuhan anak saat anak saya masuk sekolah dasar,”.
“Saya bekerja di perusahaan kecil, jadi tidak ada ruang menyusui, jadi saya harus pergi ke toserba dekat kantor setiap tiga hingga empat jam dengan membawa pompa ASI dan kompres es,”.
Jung Yoo-mi, mantan kepala the Academy of Breastfeeding Medicine Korea mengatakan.
“Sulit bagi bayi dan ibu untuk bersama 24 jam sehari, tetapi sangat penting untuk membentuk ikatan melalui menyusui,”.
“Klinik kebidanan dan pusat perawatan pasca persalinan harus menyiapkan lebih banyak ruang menyusui dan membantu ibu belajar cara menyusui bayinya,”.
Demikian ulasan mengenai alasan menurunnya para ibu menyusui di Korea Selatan.
Selain dipengaruhi oleh jumlah kelahiran yang juga menurun, minimnya dukungan bagi ibu menyusui di tempat kerja dan fasilitas umum, membuat mereka memilih untuk tidak memberikan ASI pada anaknya.***