3. Jangan Saling Menyalahkan
Memperlihatkan perdebatan sengit antara Ayah dan Bunda di depan anak akan menjadi hal yang buruk ketika Ayah dan Bunda terus saling menyalahkan dan tidak dapat menurunkan ego masing-masing. Teruslah berlatih untuk menurunkan ego agar pertunjukan perdebatan saling menyalahkan itu tidak menjadi tontonan rutinitas bagi anak-anak.
Sebaliknya, saat berselisih paham sebisa mungkin untuk mendengarkan pendapat dari sudut pandang masing-masing. Ini juga dapat melatih Ayah dan Bunda untuk lebih memahami satu sama lain, bahkan dengan demikian dapat semakin memupuk rasa cinta dan kasih sayang dari Ayah dan Bunda terhadap pasangan yang akan menemani kalian hingga akhir hayat.
4. Jangan Sekalipun Meremehkan Pasanganmu
Terkadang anak berkonfrontasi dengan Bunda karena aturan ketat yang diterapkan kepadanya. Jika Ayah dan Bunda memang memiliki gaya pengasuhan yang berbeda, ini saatnya untuk saling memahami dan tetap kompak di tengah perbedaan tersebut.
Ayah dan Bunda jangan pernah membuat si Kecil merasa Ayah dan Bundanya tidak kompak karena Ayah atau Bunda meremehkan pasangannya di depan anak. Jika demikian maka sulit bagi anak untuk belajar disiplin dan akan ada efek jangka panjang lain yang lebih besar.
Jika anak kesal hingga tantrum karena Bunda melarangnya memakan permen, sedangkan menurut Ayah boleh-boleh saja memakan permen, maka sebaiknya Ayah tidak mengacaukan aturan yang Bunda berikan kepada si Kecil dengan mengatakan “Bunda ngga asyik ya, sini peluk dulu.”
Dengan mengatakan hal seperti itu berarti meremehkan Bunda yang telah menetapkan aturan yang tidak disukai anak. Sehingga anak akan menganggap Bunda sebagai sosok yang kejam atau buruk. Memang Ayah sebaiknya berempati saat anak tantrum, namun tidak dengan ikut berkonfrontasi dengan Bunda dan membela si Kecil.
Daripada mengatakan kalimat seperti tersebut, sebaiknya Ayah mengatakan begini “Kamu sedih ya tidak bisa makan permen? Ayah paham kok, tapi Bunda benar sayang, jika kamu makan permen terus-menerus nanti kamu bisa sakit gigi.”