Tapi, tahukah Ayah Bunda bahwa ocehan tak berarti itu memiliki banyak manfaat untuk perkembangan bahasa pada bayi. Bagaimana itu bisa sangat berarti meski terlihat remeh? Sebuah studi menunjukkan bahwa bayi akan bisa dengan mudah untuk belajar berbicara saat orang dewasa sering mengajaknya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa bayi secara langsung.

Menurut Daniel J. Siegel, MD, penulis buku The Whole Brain Child, hal itu karena pengaruh cara kerja otak pra-bahasa manusia, yaitu selama dua sampai tiga tahun pertama kehidupan. Menurutnya pada saat itu manusia lebih dominan menggunakan otak kanan dalam aktivitas. Termasuk dalam pertumbuhannnya, otak kanan lebih dahulu berkembang ketimbang otak kiri.
Saat mencoba berkomunikasi dengan bayi sebaiknya orang dewasa memposisikan diri sebagai seorang yang memahami apa yang sedang dikatakannya. Sebaiknya gunakan kalimat yang pendek dan sederhana. Lalu sampaikanlah dengan nada yang lebih tinggi tapi bukan membentak, dan dengan intonasi yang dilebih-lebihkan.
Jangan lupa memperhatikan mata bayi saat ia sedang mengoceh atau cooing, agar ia merasa bahwa ia didengar dan dihargai. Apresiasi sederhana seperti itu bisa membuat semangatnya bertambah untuk terus belajar berbicara.
Siegel menyebutkan bayi adalah ‘manusia belahan (otak) kanan,’ jadi jika orang tua juga ikut menggunakan bahasa yang sama maka akan bisa menciptakan komunikasi yang efektif dengan bayi. Ia mengibaratkan berbicara dengan bahasa nonverbal yang menggunakan otak kanan dengan bayi seperti mengirimkan sinyal kepadanya, dan bayi akan meresponsnya dengan memberikan sinyal balik.
Menurut Siegel seperti dikutip dari WebMD, dengan sinyal tersebut mengisyaratkan bahwa lawan bicara (orang tua) sudah memahami si Kecil, dan itu membuat si Kecil merasa telah terhubung dengan lawan bicaranya. Karena anak-anak dominan pada otak kanan itulah yang menjadi alasan mengapa ketika kita mengajak berkomunikasi dengan bayi dan balita kita harus menunjukkan sikap se-ekspresif mungkin. Gestur tubuh yang berulang-ulang mampu meningkatkan keterampilan bahasa dan perkembangan kognitif mereka. Dan perilaku meniru ocehan bayi itu seperti memvalidasi perasaan mereka bahwa ia didengar.
Namun perlu diingat bahwa itu tidak berlaku ketika sudah balita, saat anak sudah belajar mengucapkan kata-kata yang berarti. Orang dewasa sebaiknya tidak menirukan kata-kata anak yang cadel, seperti “mamam” langsung saja kita sebutkan “makan” atau “cucu” langsung kita sebut “susu” saja.
Tujuannya jelas, yaitu untuk mengajarkan kata yang benar kepada anak agar dia bisa berusaha belajar menyebutkan kata yang sebenarnya. Meskipun anak belum bisa mengucapkan kata dengan benar tapi setidaknya dia sudah tahu seperti apa kata tersebut diucapkan dengan benar. Sehingga dia akan berusaha untuk mengucapkannya dengan benar.
Kendati demikian kita tidak perlu berkali-kali meluruskan saat anak masih mengucapkan kata yang belum tepat. Hal itu bisa membuat anak minder dan enggan untuk belajar berbicara. Cukup saat kita berkomunikasi dengannya kita menyebutkan kata tersebut dengan benar dan biarkan jika anak masih belum bisa mengucapkan kata yang benar. Setidaknya dia sudah mengetahui mana yang benar dan suatu saat nanti akan mengucapkan kata yang benar tersebut.
Kuncinya, anak akan bisa belajar berbicara dengan cepat jika sering diajak berkomunikasi oleh orang-orang di sekitarnya. Variasikan tema percakapan agar perbendaharaan kosa kata anak semakin kaya dan anak memiliki wawasan yang luas. Jangan pernah menganggap bahwa anak tidak akan paham dengan apa yang kita bicarakan. Kita hanya perlu membicarakannya dengan menggunakan kalimat sederhana dan mudah dimengerti.