HALLOBUNDA.CO – Anak yang emosinya divalidasi tumbuh lebih percaya diri, lebih tenang, dan punya hubungan yang sehat dengan orang tuanya.
Bunda, saat anak marah, sedih, atau takut sering kali kita terburu-buru menenangkan atau memberi solusi.
Padahal, yang anak butuhkan pertama kali adalah didengarkan dan dimengerti.
Inilah yang disebut dengan validasi emosi, teknik sederhana tapi sangat penting dalam membangun kecerdasan emosional anak.
Apa Itu Validasi Emosi?
Validasi emosi adalah penerimaan dan pengakuan terhadap perasaan yang sedang dirasakan anak, tanpa menghakimi atau menolak. Ini bukan berarti kita harus setuju dengan sikap anak, tapi kita mengakui bahwa perasaannya itu nyata dan wajar.
Kenapa Validasi Emosi Penting?
- Membantu anak mengenali dan mengelola emosinya
- Membangun rasa aman dan kepercayaan pada orang tua
- Mencegah anak memendam perasaan atau mengekspresikannya secara negatif
- Menumbuhkan empati dan kemampuan komunikasi emosional
Tanda Orang Tua Belum Memvalidasi Emosi Anak
- “Ah, itu mah nggak usah dibikin nangis!”
- “Udah, jangan lebay, biasa aja dong.”
- “Masa gitu aja takut?”
- “Gitu doang kok sedih sih?”
Kalimat-kalimat ini bisa membuat anak merasa diabaikan atau malu dengan emosinya.
Teknik Validasi Emosi yang Bisa Dilakukan Orang Tua

1. Dengarkan Tanpa Menyela
Saat anak sedang emosi, beri waktu ia mengungkapkan perasaannya dulu sebelum Bunda bicara.
2. Coba Pahami dari Sudut Pandang Anak
Anak belum punya kemampuan berpikir seperti orang dewasa. Rasa kecewa karena mainan rusak bisa jadi hal besar bagi mereka.
3. Berikan Kata-Kata yang Mengakui Emosi
Contoh:
“Kakak kelihatan marah banget, ya.”
“Wajar kok kamu merasa takut di tempat gelap.”
“Mama ngerti kamu lagi kecewa karena nggak jadi main.”
4. Gunakan Kontak Mata dan Sentuhan Lembut
Tatapan hangat dan pelukan bisa jadi validasi tanpa kata.
5. Tunda Nasihat atau Solusi
Selesaikan dulu perasaannya, baru arahkan. Jangan buru-buru mengoreksi atau memberi solusi saat anak masih meledak-ledak.
6. Ajarkan Anak Menamai Emosinya
Gunakan kata-kata seperti “marah”, “takut”, “kesal”, “bingung” agar anak bisa lebih mudah memahami dan mengelola emosi sendiri di masa depan.
Contoh Kalimat Validasi
- “Kamu kecewa ya, Mama bisa ngerti perasaan itu.”
- “Kamu takut karena belum pernah ke tempat ini, ya? Nggak apa-apa kok.”
- “Wajar banget kamu marah, tadi adik ambil mainanmu tanpa izin.”
- “Mama juga dulu pernah merasa sedih seperti itu.”
Bunda, validasi emosi bukan memanjakan tapi menanamkan pesan bahwa perasaan itu boleh ada, dan semua emosi itu normal.
Anak yang merasa dimengerti akan lebih terbuka, lebih mudah ditenangkan, dan lebih dekat secara emosional dengan orang tuanya.
Yuk, hadir bukan hanya sebagai pendidik, tapi juga sebagai pendengar yang sabar dan penuh empati.
Karena dari situlah anak belajar bahwa dunia ini aman mulai dari rumah.***