Bermain, Meraba, dan Menemukan: 10 Aktivitas Sensory Play di Rumah untuk Anak

Syafaria Hadyandari
16 Min Read
ibu mendampingi anak melakukan aktivitas sensory play di rumah
Ibu mendampingi anak melakukan aktivitas sensory play di rumah

HALLOBUNDA.CO – Bunda mungkin pernah melihat si Kecil begitu serius memindahkan air dari satu gelas ke gelas lain, meremas adonan, menginjak rumput, atau mendengarkan bunyi sendok yang diketukkan. Bagi orang dewasa, kegiatan itu tampak sederhana. Bagi anak, setiap sentuhan, suara, gerakan, warna, dan perubahan tekstur adalah informasi baru tentang dunia. Inilah inti sensory play: anak belajar melalui pengalaman indrawi yang aktif, aman, dan menyenangkan.

Aktivitas sensory play di rumah tidak membutuhkan alat mahal atau ruang khusus. Baskom, air, kain, kardus, es batu, spons, sendok, dan bahan dapur dapat menjadi media eksplorasi. Yang lebih penting adalah cara orang tua menyiapkan lingkungan, mengawasi, memberi bahasa pada pengalaman anak, serta menghormati tanda ketika anak sudah cukup.

Apa Itu Sensory Play?

Sensory play adalah permainan yang mengajak anak menggunakan satu atau lebih sistem sensorik. Selain lima indra yang umum—penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecap—pengalaman anak juga dipengaruhi oleh sistem vestibular yang berkaitan dengan gerak dan keseimbangan, proprioseptif yang membantu mengenali posisi serta kekuatan tubuh, dan interoseptif yang memberi informasi dari dalam tubuh seperti lapar, haus, atau tegang.

Baca Juga  10 Aktivitas Fine Motor untuk Anak 2 Tahun yang Mudah Dilakukan di Rumah

Tidak semua aktivitas harus merangsang banyak indra sekaligus. Menuang air terutama melibatkan sentuhan, penglihatan, dan koordinasi tangan. Mendorong keranjang ringan memberi input proprioseptif. Berjalan mengikuti garis melatih keseimbangan. Kesederhanaan justru membuat orang tua lebih mudah mengamati respons anak.

Tujuan utamanya bukan menghasilkan karya yang rapi atau membuat anak menyelesaikan instruksi tertentu. Permainan sensorik bersifat terbuka: anak boleh mengulang, mencoba cara berbeda, berhenti sejenak, atau sekadar mengamati. Ketika orang tua terlalu cepat menunjukkan “cara yang benar”, ruang eksplorasi dapat menyempit. Bunda dapat mencontohkan satu tindakan, lalu memberi kesempatan anak memimpin permainan.

Mengapa Sensory Play Baik untuk Proses Belajar Anak?

Bermain adalah konteks belajar alami pada masa kanak-kanak. American Academy of Pediatrics menekankan bahwa permainan mendukung perkembangan sosial-emosional, bahasa, kognitif, dan kemampuan pengaturan diri. Dalam sensory play, anak tidak hanya menerima rangsangan; ia membandingkan, memperkirakan, menguji, dan mengulangi. Ketika spons kering menyerap air, misalnya, anak melihat hubungan sebab-akibat. Ketika dua wadah menghasilkan bunyi berbeda, anak mulai mengelompokkan karakteristik objek.

Baca Juga  Tanpa Sadar Orang Tua Bisa Jadi Toxic loh Bagi si Kecil, Begini 4 Tanda-tandanya!

Kegiatan meraup, mencapit, memeras, menyendok, dan menuang memberi kesempatan melatih otot kecil tangan serta koordinasi mata-tangan. Orang tua juga dapat memperkaya bahasa dengan kata deskriptif: licin, kasar, lembut, berat, ringan, penuh, kosong, cepat, lambat. Interaksi dua arah seperti ini lebih bernilai daripada sekadar menyediakan bahan lalu meninggalkan anak bermain sendiri.

Manfaat yang Dapat Didukung

  • Eksplorasi dan rasa ingin tahu melalui percobaan sederhana.
  • Motorik halus dan koordinasi tangan saat meremas, mencapit, atau menuang.
  • Kosakata deskriptif dan kemampuan bercerita tentang pengalaman.
  • Problem solving ketika anak mencari cara memindahkan atau menyusun bahan.
  • Perhatian dan ketekunan dalam aktivitas yang sesuai minat serta toleransi anak.
  • Interaksi sosial saat bergantian, berbagi alat, dan mengikuti batas keselamatan.

Panduan Keamanan Sebelum Memulai

Keamanan harus didahulukan, terutama pada anak di bawah tiga tahun yang masih sering memasukkan benda ke mulut. Gunakan bahan berukuran besar, tidak tajam, tidak beracun, bersih, dan sesuai usia. Hindari water beads, magnet kecil, baterai kancing, benda yang mudah pecah, serta bahan kecil yang berisiko tersedak. Bahan makanan mentah seperti beras atau pasta tetap dapat menjadi bahaya aspirasi dan bukan berarti otomatis aman untuk semua anak.

Baca Juga  Yuk Bunda Terapkan 5 Stimulasi Ini Sejak Dini Agar Anak Cerdas

Dampingi secara aktif. Artinya, orang dewasa berada dalam jangkauan, tidak sibuk dengan telepon, dan dapat segera menghentikan aktivitas bila anak memasukkan bahan ke mulut, menunjukkan kesulitan bernapas, atau sangat kewalahan. Untuk permainan air, bahkan volume dangkal tetap membutuhkan pengawasan konstan. Kosongkan wadah segera setelah selesai.

Perhatikan alergi, iritasi kulit, luka terbuka, dan kebiasaan mouthing. Cuci tangan sebelum serta sesudah bermain. Jika menggunakan pewarna atau sabun, lakukan uji pada area kecil dan pilih produk yang sesuai untuk anak. Ketika ragu, gunakan bahan nonpangan berukuran besar atau aktivitas tanpa bahan lepas seperti jalur tekstur dari kain.

Share this Article
Reading: Bermain, Meraba, dan Menemukan: 10 Aktivitas Sensory Play di Rumah untuk Anak