HALLOBUNDA.CO – Sendok baru mendekat, tetapi si Kecil langsung menutup mulut, memalingkan kepala, menangis, atau mendorong piring. Situasi yang sering disebut gerakan tutup mulut atau GTM anak ini dapat membuat orang tua cemas: apakah asupan anak cukup, apakah berat badannya akan turun, dan apakah ia akan kekurangan zat gizi?
GTM bukan diagnosis tunggal. Anak dapat menolak makan karena belum lapar, sedang sakit, bosan dengan menu, kelelahan, takut pada tekstur tertentu, mengalami nyeri di mulut, terlalu banyak susu dan camilan, atau pernah mengalami proses makan yang menegangkan. Pada fase tertentu, penurunan nafsu makan juga dapat terjadi ketika kecepatan pertumbuhan melambat.
Respons orang tua sangat menentukan suasana makan. Memaksa, mengejar anak dengan sendok, menyalakan layar agar mulut terbuka, atau mengganti makanan dengan camilan favorit memang kadang membuat beberapa suap masuk. Namun, strategi tersebut dapat mengaburkan sinyal lapar-kenyang dan memperpanjang konflik. Pendekatan yang lebih aman adalah mencari penyebab, membangun struktur, dan menerapkan responsive feeding.
Apa itu GTM anak dan mengapa dapat terjadi?
GTM adalah istilah populer untuk perilaku anak menolak membuka mulut atau menolak melanjutkan makan. IDAI menjelaskan bahwa penyebabnya dapat beragam, mulai dari bosan, tidak lapar, sedang sakit, trauma terhadap makanan atau proses makan, hingga praktik pemberian makan yang kurang tepat. Karena penyebabnya berbeda, satu solusi tidak cocok untuk semua anak.
Pada usia batita, kemandirian berkembang pesat. Anak mulai ingin menentukan pilihan, termasuk makanan. Nafsu makan juga dapat berubah dari hari ke hari. Satu kali makan yang sedikit belum tentu berarti masalah bila anak tetap aktif, minum cukup, tumbuh sesuai kurva, dan mendapat variasi makanan sepanjang minggu.
Catat pola selama tiga sampai tujuh hari: waktu makan dan camilan, jumlah susu, menu yang diterima atau ditolak, durasi makan, gejala sakit, buang air besar, serta suasana saat makan. Catatan membantu orang tua melihat apakah GTM berkaitan dengan jadwal, tekstur, kondisi medis, atau pola interaksi.
1. Periksa dulu apakah anak sedang sakit atau tidak nyaman
Penolakan makan yang muncul tiba-tiba sering berkaitan dengan sariawan, tumbuh gigi, pilek, batuk, demam, sakit tenggorokan, nyeri telinga, refluks, konstipasi, atau gangguan pencernaan. Anak yang sulit bernapas melalui hidung juga dapat kesulitan mengunyah dan menelan sambil bernapas.
Perhatikan tanda seperti demam, muntah berulang, diare, nyeri saat menelan, luka di mulut, perut kembung, tinja keras, anak tampak kesakitan, atau energi menurun. Saat sakit, tawarkan cairan dan makanan yang lebih lunak dalam porsi kecil. Jangan memaksa mengejar target porsi seperti hari biasa.
Segera cari pertolongan bila anak sulit bernapas, sangat lemas, tidak mampu minum, menunjukkan tanda dehidrasi, tersedak atau batuk terus saat makan, muntah hijau atau berdarah, atau mengalami penurunan kesadaran. Keluhan yang menetap juga perlu dievaluasi dokter.
2. Bangun jadwal makan yang teratur
Anak membutuhkan kesempatan merasa lapar sebelum waktu makan. Terapkan jadwal makan utama dan camilan dengan jeda yang cukup, sambil tetap menyesuaikan usia serta rutinitas keluarga. Hindari anak terus mengunyah sepanjang hari karena grazing dapat mengurangi rasa lapar saat makan utama.
Air putih dapat tersedia sesuai kebutuhan, tetapi susu, jus, dan minuman berkalori perlu diperhitungkan. Terlalu banyak susu atau minuman manis menjelang makan dapat membuat anak kenyang sebelum makanan utama disajikan. Jangan menggunakan susu sebagai pengganti setiap kali anak menolak makan tanpa berdiskusi dengan tenaga kesehatan.
3. Terapkan pembagian peran saat makan
Orang tua bertanggung jawab menentukan makanan apa yang disajikan, kapan, dan di mana. Anak diberi ruang untuk menentukan apakah ia akan makan dan berapa banyak dari pilihan yang tersedia. Prinsip ini membantu menjaga batas yang jelas sekaligus menghormati sinyal lapar dan kenyang anak.
Sajikan setidaknya satu makanan yang biasanya diterima anak bersama menu keluarga. Ini bukan berarti memasak menu terpisah setiap hari, tetapi memberi titik aman agar meja makan tidak terasa sepenuhnya asing. Hindari menyuapi secara paksa, menahan tubuh, membuka mulut dengan tekanan, atau mempermalukan anak.
WHO menganjurkan pemberian makan responsif: dampingi anak, makan perlahan dan sabar, dorong tanpa memaksa, berbicara dengan anak, serta memperhatikan isyarat lapar dan kenyang. Tujuannya bukan memenangkan satu waktu makan, melainkan membangun hubungan makan yang sehat dalam jangka panjang.
4. Mulai dari porsi kecil dan tekstur yang sesuai
Piring yang terlalu penuh dapat membuat anak kewalahan. Sajikan satu atau dua sendok makan tiap komponen terlebih dahulu, lalu tambahkan jika anak meminta. Porsi kecil juga mengurangi tekanan dan pemborosan tanpa membatasi hak anak untuk makan lebih banyak ketika lapar.
Sesuaikan tekstur dengan kemampuan oral-motor. Makanan yang terlalu keras, berserat panjang, licin, atau berukuran tidak aman dapat membuat anak takut. Untuk batita, potong makanan sesuai tahap perkembangan dan risiko tersedak. Hindari kacang utuh, anggur utuh, potongan sosis bulat, serta makanan keras yang tidak sesuai usia.
Jika anak menolak tekstur tertentu secara konsisten, jangan menyembunyikan semua makanan dalam bentuk halus terus-menerus. Lakukan paparan bertahap: melihat, menyentuh, mencium, menjilat, lalu menggigit. Kemajuan tidak selalu langsung berupa satu porsi habis.