10 Latihan Mengikuti Instruksi yang Bisa Dilakukan Sambil Bermain

Syafaria Hadyandari
12 Min Read
Ibu melatih anak mengikuti instruksi sederhana sambil bermain balok
Ibu melatih anak mengikuti instruksi sederhana sambil bermain balok

HALLOBUNDA.CO – “Tolong ambil sepatu lalu taruh di dekat pintu.” Bunda sudah mengatakannya, tetapi si Kecil justru berjalan ke mainannya. Situasi seperti ini mudah membuat orang tua berpikir anak sengaja tidak mendengarkan. Padahal, kemampuan mengikuti instruksi bukan sekadar soal mau atau tidak mau. Anak perlu memahami bahasa, mengingat informasi, memusatkan perhatian, menahan impuls untuk melakukan hal lain, dan mengubah kata-kata menjadi tindakan.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencantumkan kemampuan mengikuti arahan satu langkah tanpa gestur—misalnya memberikan mainan ketika diminta—sebagai salah satu milestone komunikasi sekitar usia 18 bulan. American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) juga memasukkan mengikuti arahan sederhana seperti “beri bolanya”, “peluk bonekanya”, atau “kemari” dalam rentang milestone komunikasi 13–18 bulan. Milestone membantu memberi gambaran perkembangan, tetapi bukan alat diagnosis dan tidak berarti setiap anak harus menunjukkan keterampilan dengan cara yang persis sama.

Baca Juga  Nikita Willy Ajak Anaknya Salt Therapy Untuk Jaga Saluran Pernapasan, Tapi Amankah?

Seiring bertambah usia, tuntutan instruksi menjadi lebih kompleks. ASHA menyebut anak usia kindergarten umumnya mulai dapat mengikuti satu sampai dua arahan sederhana secara berurutan, sedangkan pada akhir kelas satu anak diharapkan dapat mengingat dan mengikuti dua sampai tiga langkah. Keterampilan ini berkembang bertahap dan sangat dipengaruhi oleh bahasa, perhatian, pengalaman, serta konteks.

Mengikuti Instruksi Bukan Sama dengan ‘Patuh’

Ada perbedaan penting antara anak memahami instruksi tetapi memilih tidak melakukannya dan anak belum mampu memproses instruksi tersebut. Jika orang tua langsung memberi label ‘tidak menurut’, kesempatan untuk melihat kebutuhan anak dapat terlewat.

Contohnya, “Ambil buku merah di meja lalu taruh di tas” membutuhkan pemahaman kata benda, warna, lokasi, urutan, dan dua tindakan. Anak juga harus menahan informasi itu di working memory saat bergerak. Center on the Developing Child at Harvard University menjelaskan bahwa executive function mencakup working memory, inhibitory control, dan cognitive flexibility. Working memory memungkinkan seseorang mempertahankan dan menggunakan informasi; inhibitory control membantu menahan distraksi atau impuls; cognitive flexibility membantu menyesuaikan tindakan ketika tuntutan berubah.

Baca Juga  10 Cara Menstimulasi Oromotor Anak Lewat Aktivitas Sehari-hari
Share this Article
Reading: 10 Latihan Mengikuti Instruksi yang Bisa Dilakukan Sambil Bermain