7 Tren Dongeng dan Buku Anak 2026 yang Mendekatkan Keluarga

Syafaria Hadyandari
11 Min Read
Tren buku anak 2026 dan ritual membaca bersama keluarga
Tren buku anak 2026 dan ritual membaca bersama keluarga

HALLOBUNDA.CO – Buku anak tidak lagi hanya hadir sebagai pengantar tidur. Di banyak keluarga, cerita menjadi cara untuk membuka percakapan tentang emosi, mengenal budaya, menumbuhkan rasa ingin tahu, bahkan tetap terhubung ketika anggota keluarga berjauhan. Memasuki 2026, tren dongeng dan buku anak bergerak ke arah pengalaman membaca yang lebih partisipatif: anak bukan hanya mendengar, tetapi ikut menunjuk, bertanya, menebak, menghubungkan cerita dengan pengalaman, dan memilih apa yang ingin dibaca ulang.

Arah ini sejalan dengan temuan riset tentang parent-child shared book reading. Tinjauan sistematis 2025 menyebut membaca bersama sebagai aktivitas dasar yang mendukung perkembangan literasi, termasuk bahasa, kognitif, dan kompetensi sosial-emosional. Faktor yang membantu antara lain akses terhadap buku, pengalaman membaca yang menyenangkan, kualitas konten, dan dukungan orang tua. Artinya, “tren” yang paling bernilai bukan koleksi paling banyak, melainkan interaksi yang membuat buku terasa hidup.

Baca Juga  Berikan Stimulasi Bicara Sejak Bayi, Perhatikan 2 Cara Ini

1. Read-Aloud Interaktif: Anak Ikut Menjadi Pencerita

Membaca nyaring bergeser dari pola orang tua membaca–anak mendengar menjadi percakapan dua arah. Bunda dapat berhenti pada ilustrasi, bertanya “Menurut kamu, setelah ini apa yang terjadi?”, meminta anak mencari detail, atau menghubungkan tokoh dengan pengalaman sehari-hari. Tidak perlu memberi pertanyaan pada setiap halaman. Pilih momen yang alami agar cerita tetap menyenangkan.

Di Indonesia, membaca nyaring dan mendongeng juga terus dipakai dalam gerakan literasi. Pada program Mudik Asyik Baca Buku 2026, Badan Bahasa Kemendikdasmen menggabungkan pembagian bacaan dengan pojok baca, membaca nyaring, mengulas buku, mendongeng, dan mewarnai. Ini memperlihatkan bahwa pengalaman literasi semakin diposisikan sebagai aktivitas sosial, bukan sekadar kegiatan individual.

Baca Juga  Bahaya! Jangan Umbar Janji Palsu Kepada si Kecil, Ini Dia Dampaknya

2. Cerita Lokal dan Identitas yang Dekat dengan Anak

Cerita dengan makanan, permainan, bahasa, lingkungan, atau dinamika keluarga yang dikenali anak dapat menjadi pintu masuk percakapan. Buku tidak harus selalu mengajarkan “pesan moral” secara eksplisit. Kisah yang dekat dengan kehidupan anak memberi kesempatan untuk bertanya tentang keluarga, tradisi, perbedaan, dan pengalaman orang lain.

Saat memilih cerita lokal, perhatikan kualitas narasi dan representasinya. Hindari menjadikan budaya sekadar dekorasi. Bunda dapat menambah pengalaman dengan menunjukkan lokasi pada peta, memasak makanan yang muncul dalam cerita, atau meminta kakek-nenek menceritakan versi pengalaman mereka.

3. Buku Emosi dan Social-Emotional Storytelling

Buku tentang marah, takut, malu, berteman, kehilangan, atau mencoba lagi semakin relevan karena cerita memberi jarak aman untuk membicarakan perasaan. Alih-alih bertanya, “Kamu juga begitu, kan?”, mulai dari tokoh: “Menurutmu, kenapa dia diam?” atau “Apa yang mungkin ia butuhkan?” Anak bebas menjawab atau hanya mendengarkan.

Baca Juga  Tau Kah Bunda? Jika Memaksa Anak Untuk Memeluk Orang Lain, Merupakan Tindakan yang Fatal

Buku emosi bukan alat untuk memaksa anak mengaku atau langsung berubah. Gunakan cerita sebagai pembuka, lalu ikuti kesiapan anak. Jika topik terasa berat, kembali pada alur dan ilustrasi. Tujuannya adalah menyediakan bahasa untuk memahami pengalaman, bukan menguji kemampuan anak mengenali emosi.

4. Picture Book yang Bisa “Dibaca” Lewat Ilustrasi

Ilustrasi semakin penting sebagai bagian dari narasi. Untuk anak yang belum lancar membaca, Bunda dapat melakukan picture walk: melihat halaman sebelum teks dibacakan, menebak suasana, mencari perubahan ekspresi, atau membuat versi cerita dari gambar. Studi tentang shared storybook reading menunjukkan perhatian anak prasekolah banyak tertuju pada ilustrasi; ini dapat dimanfaatkan untuk memperkaya percakapan.

Biarkan anak memegang buku, membalik halaman, dan kembali ke gambar favorit. Ritual seperti ini memberi rasa memiliki. Anak tidak harus duduk diam sempurna agar kegiatan membaca dianggap berhasil.

Share this Article
Reading: 7 Tren Dongeng dan Buku Anak 2026 yang Mendekatkan Keluarga