HALLOBUNDA.CO – “Ambil sepatu, yuk,” lalu si Kecil langsung mengambilnya. Ketika Bunda bertanya, “Mana bola?”, ia juga bisa menunjuk dengan tepat. Namun saat diminta menyebut nama benda atau menjawab dengan kata, responsnya masih sangat sedikit. Situasi anak paham instruksi tapi belum bicara atau belum banyak menggunakan kata sering membuat orang tua bingung: apakah ini hanya variasi perkembangan, atau ada sesuatu yang perlu diperiksa?
Kemampuan memahami bahasa disebut bahasa reseptif, sedangkan kemampuan menyampaikan pikiran, kebutuhan, atau perasaan disebut bahasa ekspresif. Keduanya saling berkaitan, tetapi kecepatannya tidak selalu sama. NIDCD menjelaskan bahwa anak yang mengalami kesulitan memahami perkataan memiliki tantangan reseptif, sementara kesulitan membagikan pikiran berkaitan dengan bahasa ekspresif. Karena itu, anak yang tampak memahami banyak hal tetapi masih minim kata perlu dilihat secara utuh, bukan hanya dihitung jumlah katanya.
Anak Paham Instruksi tapi Belum Bicara, Apakah Selalu Speech Delay?
Belum tentu. Anak berkembang dengan variasi individual, dan sebagian anak memang menunjukkan pemahaman lebih dahulu sebelum kemampuan berbicaranya berkembang pesat. Dalam literatur, toddler dengan kemunculan dan perkembangan bahasa ekspresif yang lebih lambat tetapi perkembangan lain relatif sesuai usia sering disebut late talker. Namun istilah ini bukan alasan untuk sekadar menunggu tanpa pemantauan.
Kemampuan reseptif yang baik merupakan informasi positif, tetapi tidak menjamin bahwa semua anak akan mengejar ketertinggalannya dengan pola yang sama. Sebuah meta-analisis pada late talkers menemukan bahwa kemampuan bahasa reseptif termasuk prediktor penting bagi hasil bahasa ekspresif berikutnya. Artinya, pemahaman bahasa adalah bagian penting dari gambaran perkembangan, tetapi kemampuan ekspresif tetap perlu dipantau.
Perhatikan Cara Anak Berkomunikasi, Bukan Hanya Jumlah Kata
Sebelum fokus pada kata yang belum muncul, amati cara si Kecil berkomunikasi. Apakah ia menunjuk untuk meminta atau menunjukkan sesuatu? Apakah ia menatap wajah Bunda ketika ingin berbagi perhatian? Apakah ia meniru bunyi, menggunakan gestur, membawa benda untuk diperlihatkan, atau mencoba bergantian dalam permainan? Komunikasi awal tidak hanya berupa kata. Gestur, tatapan, bunyi, dan kemampuan berbagi perhatian juga memberi gambaran penting tentang bagaimana anak membangun komunikasi dua arah.